Serahim Aksara

Hujan yang Luruh di Penghujung Usiamu

Kubuka layar smartphone. SMS dari omku.

Sudah sampai mana, Put?

Kukirim SMS balasan. Gagal terkirim. Padahal, jaringan sinyal ada, pulsa masih memenuhi untuk mengirim SMS. Pesan kukirim ulang. Gagal lagi. Dengus kesal keluar bersamaan embus napas. Ku-restart smartphone. Pesan kukirim kembali. Berkali-kali. Tetap nihil. Pesan tidak ada yang terkirim satu pun. Entah apa yang bermasalah.

Jengkel karena pengiriman pesan berkali-kali gagal, aku pun berhenti mengirim SMS. Dengan menggunakan HP "pinjaman kantor" yang kebetulan kubawa, aku meng-SMS rekanku untuk memintanya mengisikan pulsa ke nomorku. Sembari menunggu pulsa masuk, aku menghabiskan makanan yang sudah dipesan. Selesai makan, pulsa yang dikirim rekanku berhasil masuk. Bergegas kumenelpon omku.

"Assalamu'alaikum. Om, Puput udah ngelewatin Sawangan. Ini lagi pada makan dulu. Ruang kamar tempat simbah dirawat namanya apa sama nomornya berapa, Om?"

"Nanti kalau udah sampe, om dikabarin. Om nunggu di parkiran rumah sakit. Ke ruangannya nanti diantar sama om," jawabnya.

"Oh. Ya wis. Nanti tak kabari kalau udah di situ."

"He eh, Put. Ati-ati di jalan, ya."

"Iya, Om. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Telepon ditutup. Kumembuang napas keras-keras serupa mengurai pikiran yang mulai kalut. Di langit, mendung kian memekat. Lalu, pecah menjelma rintik gerimis. Jalanan perlahan membasah. Selintas, lingkar mataku menatap ibu yang diam membisu. Kami seolah merasakan hal yang sama dalam keheningan.

"Istirahatnya udah cukup. Kita berangkat lagi sekarang," kata Bapak selang beberapa menit aku menelepon omku.

Ibu menuju kasir. Setelahnya, kami masuk ke dalam mobil. Seiring mobil melaju, teleponku berdering. Panggilan dari omku.

"Udah sampai mana, Put?" tanyanya.

"Sampe Kelerang, Om," jawabku.

"Ya sudah. Cepet, ya. Ditunggu di rumah sakit."

"Ya, Om."

*

Sekitar pukul 14.30 WIB, kami tiba di R.S PKU Wonosobo. Tampak sepupuku menunggu di situ. Aku turun dari mobil diikuti ibu dan adik perempuanku. Sementara adik laki-lakiku menemani bapak mencari tempat parkir untuk mobil.

Tadinya, sepanjang perjalanan, aku optimis dengan membayangkan kejadian serupa setahun silam: aku menginap di rumah sakit menemani simbah, kondisi simbah perlahan membaik lalu aku kembali ke Cirebon dengan membawa keyakinan simbah juga akan kembali ke rumah dan keyakinan itu pun terwujud. Tapi, semenjak omku meminta kami datang secepatnya ke rumah sakit dan dari cara sepupuku menyambut kami di pintu masuk rumah sakit, aku hanya berusaha untuk mengendalikan emosi yang mulai bergolak.

"Simbah gimana?" tanyaku pada Mas Aris, sepupuku, sambil kami berjalan menelusuri koridor rumah sakit.

Raut mukanya serius. Ia tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menyentuh punggungku yang bisa kuartikan "berjalanlah terus, segera temui simbah".

"Simbah kritis? Dari kapan?" cecarku meminta jawaban.

"Pagi tadi," akhirnya ia menjawab.

Aku membisu. Dan sepanjang langkah berderap, dengan perasaan tak keruan, berulang-ulang kupinta pada diriku sendiri: tolong tenang, tolong kendalikan dirimu.

Kami sampai di sebuah ruangan. Begitu kubuka pintu, kurasai penyangga tubuhku seperti tercabut. Tubuh ringkih dalam keadaan setengah koma terbujur pasrah di pembaringan. Di tubuhnya, terpasang beberapa selang yang terhubung pada alat deteksi tubuh.

"Jangan nangis. Jangan nangis. Kasihan simbah," ujar beberapa saudara begitu mereka melihatku mulai kesulitan mengendalikan perasaan.

Kata-kata mereka, justru membuatku hatiku makin rusuh. Sesak menjalar. Kupunggungi simbah untuk menyembunyikan sengguk. Pula, dalam hati, kusentak diri ini lebih keras lagi untuk tenang. Kuatur napas sembari menyeka basah mata dan mendongakkan kepala untuk menghentikan bulir air yang menetes.

Setelah rusuh gemuruh di dada mereda, kubalikkan badan dan berjalan mendekati sisi pembaringan diiringi ibu di belakangku. Tak terpikirkan olehku untuk menyapa sesiapa saja yang ada di situ. Penglihatanku hanya tertuju pada satu orang. Tangan kananku memegang tangannya. Sementara tangan kiriku membelai rambutnya. Dan bibirku mencium keningnya. 

Kupendekkan jarak bibirku dan telinga simbah, lalu berbisik, "Mbah... ini Puput. Puput dateng. Lengkap sekeluarga."

Ia sudah tidak bisa berkata-kata. Tapi, aku bisa merasakan, ia melihatku dengan mata kanannya yang terbuka lebih lebar dari mata kirinya.

"Puput minta maaf, ya, Mbah. Maaf kalau sudah banyak bikin simbah sedih. Puput sayang simbah."

Setelah aku, bergantian ibu yang membisiki -mungkin- kata-kata serupa di telinganya. Ada rasa nyeri yang mengoyak hatiku pada saat itu. Kakinya sudah sangat dingin. Begitu juga tangannya. Aku bisa melihat lebih rinci selang-selang yang terpasang di tubuhnya. Selang-selang tersebut bermuara ke sebuah monitor pendeteksi detak jantung, pernapasan dan tekanan darah.

"Dibacain dzikir, Put. Dzikirnya jangan lepas," ujar seorang saudara.

Aku mengangguk. Bergantian dengan ibu, aku membisiki simbah kalimat syahadat. Sementara bapak meminta Al-Quran dan mengaji di sudut yang lain lalu keluar ruangan setelah adzan ashar berkumandang.

Tiba-tiba, aku teringat murotal yang ada di smartphone-ku. Sedari tadi aku berdiri di situ, tidak ada yang menyetel ayat-ayat Al-Quran. Hanya bacaan dzikir yang dilantunkan di telinga simbah secara bergiliran. Kadang-kadang, bacaan dzikir terhenti karena para tamu silih berganti datang berkunjung.

Aku sempat menyetel Q.S Yaseen sekali. Setelahnya, tak kusetel lagi karena ada beberapa ayat yang rusak sehingga terdengar meleot. Kuganti dengan menyetel Q.S Ar-Rahman berulang-ulang. 

Tidak ada pengkhususan atau kesengajaan aku menyetel dua surat ini. Aku menyetel apa yang ada di smartphone-ku dan bertujuan agar telinga simbah tidak kosong, agar kalimat-kalimat-Nya tetap berdengung di telinganya. Karena yang kutahu, pada saat demikian, kita tengah beradu dengan setan yang terus membujuk orang yang berada dalam kondisi sakaratul maut untuk ikut dengannya.

Tiba-tiba, murotal terhenti. Teleponku berdering, kuangkat telepon sembari keluar kamar. Aku menarik napas panjang. Pekerjaan tak pernah memandang bagaimana kondisi kita. Dan kita kerap harus memaksakan diri berpura-pura baik-baik saja dalam keadaan bagaimana pun bila sudah berhubungan dengan pekerjaan. 

Orang tua yang kukira tidak jadi memasukkan anaknya ke lembaga tempat kubekerja dan lama tak berkabar mendadak meminta anaknya untuk diizinkan masuk hari Senin. Aku berbicara dengannya, bla bla bla... yang ujungnya... sepakat hari Senin setelah aku berkoordinasi dengan rekanku di sana.

Kututup telepon. Lalu, masuk kembali ke dalam ruangan. Dan murotal Q.S Ar-Rahman kuputar kembali.

*

Aku menyentuh leher simbah. Masih terasa hangat. Beralih kuraba bagian perut simbah dari balik selimut yang menutupinya. Tidak sepanas saat awal aku memegangnya. Panasnya mulai turun. Kubuka perut simbah. Kudapati tonjolan besar di perutnya. Tanpa diminta, istri sepupuku yang berada di sampingku memberitahuku. Katanya, itu tumor ganas. 

"Tumor ganas?"

Aku tercenung mendengarnya. Karena sebelumnya, simbah tidak punya riwayat tumor ganas. 

"Iya, tumor itu kedeteksi 3 hari yang lalu. Harusnya, hari ini jadwal operasi. Keluarga optimis simbah bisa sembuh, karna kemauan simbah untuk sembuh sangat kuat. Tapi... ngeliat kondisinya yang drop tadi pagi, semua udah pasrah," ungkapnya dengan mata berkilap.

Kumengalihkan titik emosi. Kuambil tissue. Kubersihkan cairan yang keluar dari hidung simbah. Di hidung simbah, terpasang dua selang. Selang oksigen dan selang yang terhubung dari hidung ke lambungnya. Hidung simbah mengeluarkan cairan yang warnanya seperti betadin. Mereka bilang itu cairan asam lambung. Beberapa hari yang lalu, sebelum selang tersebut dipasang, simbah bolak-balik muntah karena asam lambungnya meningkat. Aku melihat kantong buangan asam lambung dari selang sudah mencapai separuh isi kantong.

Kubelai kepalanya sembari berbisik, "Puput sayang simbah." 

Simbah tetap tak berkata-kata. Lekat-lekat kupandangi wajahnya. Ada basah yang menggenangi pelupuk matanya.

Kusapu pelan-pelan dengan tissue lantas kubisiki di telinganya, "Aku rela Allah Tuhanku. Aku rela Islam agamaku. Aku rela Muhammad nabi dan rasulku. Aku rela Alquran sebagai petunjuk dan hukum."

Lanjutku, "Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku. Terimalah segala amal ibadahku. Aku rela menghadap-Mu. Aku ikhlas menghadap-Mu. Terimalah aku di sisi-Mu."

Kepalaku terasa berputar saat kutegakkan. Kupejamkan mata sesaat untuk mengembalikan keseimbangan. Lalu berjalan perlahan menjauhi pembaringan.

*

Aku duduk dan menyandarkan kepala di sofa yang tak jauh dari pembaringan tempat simbah rebah. Aku butuh tenggat untuk menata kekuatan diri agar tidak limbung. Dalam jeda mengumpulkan kekuatan, jejaring mataku tak lepas menatap monitor yang menunjukkan detak jantung. Tiba-tiba, alat deteksi jantung berbunyi 3 kali lantas detak jantung simbah menghilang 

Spontan aku berseru, "Simbah! Simbah!" sembari bangun diiringi orang-orang mendekat serentak ke pembaringan begitu mendengar seruanku.

Detak jantungnya kembali. Kakiku melemas. Aku dan ibuku berdiri bersehadap. Aku di sisi pembaringan sebelah kiri, ibu di sebelah kanan.

"Bu, barangkali simbah nunggu Om Par. Tinggal Om Par yang belum dateng. Coba dihubungi," ujarku pada ibu.

Ibu berbicara dengan adiknya yang kedua, "Yon, deke hubungi Parkiyo. Ben ngendika karo simbah. Mboan simbah ngenteni Parkiyo,"1

"Iya, iki Mas Par jarene agi wae pelatihan ning Jakarta. Sesuk jarene arep mrene. Iki arep tak hubungi meneh."2

Om Yono menghubungi Om Par.

"Mas, sampeyan esih ning Jakarta? Iki mas, tolong, sampeyan ngendika karo simbah. Kondisine simbah makin kritis."3

Telepon pun diserahkan kepadaku. Kuletakkan telepon tepat di telinga kanan simbah. Dan aku bisa mendengar jelas suara di seberang sana.

"Mbah, kulo Parkiyo. Kulo badhe ngendika sareng simbah. Kulo nyuwun ngapurane nggih. Insya Allah, sesuk kulo wangsul teng riku. Simbah ngucap niruake kulo nggih."4

Om Parkiyo mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua kali. Pertama, kalimat syahadat masih terlantun dengan tabah. Sama tabahnya saat beliau ngendika. Kedua kalinya, kalimat syahadat yang diucapkannya terdengar pelan dan makin menipis di ujungnya. 

Segera kuberikan telepon kepada Om Yono untuk melanjutkan pembicaraan dengan Om Par. Aku sempat melihat simbah merespon setelah Om Par menelepon. Simbah mengembuskan napas sembari melontarkan kata "aaaaah" dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Dan itu adalah suara terakhir yang kudengar darinya.

Sejak detak jantungnya sempat menghilang, orang-orang bersiaga penuh. Dan aku tak beranjak dari sisi simbah. Dari monitor, detak jantung mulai menyentuh angka 86. Sebelumnya, hanya berkisar diantara 91-92.

"Put, dzikir lagi," titah omku.

Bacaan dzikir pun kembali bersahut-sahutan. Disamping murotal yang tidak berhenti diputar, aku mulai mentalqin kembali kalimat syahadat di telinga kanannya. Sementara di sisi kirinya, orang-orang mengucapkan kata "Allah" berulang-ulang.

Omku terus memantau detak jantung lewat monitor pendeteksi detak jantung. Sekilas, di tengah-tengah mentalqin, aku melirik monitor. Detak jantung konsisten di angka 86. Aku berhenti mentalqin sejenak untuk mengendalikan sesak dan mengusap genangan yang mulai rebak di mata.

Konsentrasiku mulai oleng. Aku mulai mengucapkan kata "Allah" mengikuti yang orang-orang ucapkan. 

Sampai Om Yono mengatakan dengan nada tegas, "Syahadat lagi, Put."

Mungkin, sudah cukup beliau memberikan kesempatan pada orang-orang berdzikir menyebut kata "Allah" atau berdzikir dengan cara yang diyakini masing-masing. Secara tidak langsung, beliau menginginkan satu bacaan yang sama yang diucapkan orang-orang dalam ruangan itu. Dan apa yang ibu dan aku lakukan sedari tadi, sepemahaman dengannya.

Aku kembali mentalqinkan kalimat syahadat. Dan diikuti yang lainnya setelah omku berkata demikian. Masih dalam keadaan terus mentalqin simbah, kulihat liurnya pelan-pelan mulai keluar. Kerongkonannya sudah tidak bisa menelan liurnya sendiri. Atau mungkin tanda penarikan ruh itu mulai mencapai kerongkonan. Di sudut mata kanannya, keluar setitik embun. Aku mengepalkan tangan untuk menekan gemuruh di dada.

Tante Tari, yang berada di belakangku, menyentuh punggungku agar aku tidak berhenti mentalqin ketika dilihatnya aku mulai kepayahan menjaga ritme emosi. Ia juga mengusap-usap punggungguku dan memintaku untuk tabah di sela-sela syahadat yang juga diucapkannya tanpa putus.

Ekor mataku melirik alat deteksi detak jantung. Kali ini, tidak ada angka yang menunjukkan kisaran detak jantung. Hanya grafik yang menunjukkan detak jantung kian melemah mendekati garis lurus. Tubuhku gemetar. Omku terus mengingatkanku untuk mengucapkan kalimat syahadat dengan kuat. Sikapnya yang demikian bermaksud membantuku dalam menjaga konsentrasi selama aku mentalqin.

Tubuh simbah tidak memperlihatkan gerakan apapun yang mengindikasikan penolakan atau kesakitan yang teramat sangat. Tubuh itu begitu pasrah, tenang, dan tabah meski dari bibirnya, liur yang mengandung asam lambung terus mengalir. Sampai kemudian, liur yang tadinya hanya keluar sedikit-sedikit, mulai menggelontor banyak. 

Kurasai sekujur tubuhku memanas. Tante Tari membersihkan liur simbah yang menetes dengan tissue. Kalimat syahadat yang terucap dari bibirnya mulai bergetar. Ruangan pun mendadak berhiruk-pikuk. Orang-orang sebagian sudah bersiap-siap menghubungi pihak rumah sakit dan mungkin rumah duka untuk penangangan jenazah. Aroma kematian kental tercium.

Muntahan liur kedua keluar lebih banyak dari liur pertama. Tante Tari mulai terisak. Aku semakin kacau. Kupejamkan mata dan kian mengencangkan kepalan tangan. Kutekan kuat-kuat kalimat talqin yang kuucapkan agar tidak tetas menjadi sengguk. Kalimat syahadat, murotal surat Ar-Rahman, kumandang adzan magrib bercampur aduk dalam satu waktu. Dalam hati, kumemohon pada-Nya: permudah, ampuni segala dosanya dan berikan ia tempat terbaik di sisi-Mu.

Muntahan liur ketiga keluar bersamaan dengan selesainya iqomat maghrib. Kalimat syahadat yang kuucapkan semakin terdengar meninggi. Lalu lenyap seketika seiring berhentinya liur mengalir, dan menutupnya mulut serta mata simbah. Muntahan terakhir, seperti kelegaan bagi simbah. 

Bersamaan dengan itu pula, pertahananku runtuh total. Aku terduduk lemas di kursi dekat pembaringan. Lalu, kuberbalik badan dan membenamkan muka di perut tanteku. Kami berpelukan. Tangis kami tumpah berbarengan.

Dan masih saja ada yang mengatakan, "Sudah. Sudah. Jangan nangis. Kasihan simbah," meski mata mereka sendiri juga berembun.

Ingin kuberkata, Ini hati. Bukan baja. Ada perasaan di dalamnya. Kami sudah mengekangnya untuk tidak melepas tangis kencang sepanjang pergulatan perasaan tadi. Tidak bisakah untuk melepaskan setitik emosi tangis barang sebentar. 

Tapi kata-kata seperti kehilangan suara, terbungkam kelu-kebas.

Kami mundur dari sisi pembaringan. Di sofa, kami duduk seperti orang linglung. Dan pada saat yang bersamaan, kami merasakan mual yang amat sangat. Lantas muntah berbarengan.

*

Para lelaki sibuk mengurus persiapan jenazah untuk dibawa ke rumah duka. Aku duduk untuk menetralkan lambungku yang masih terasa mual dan kepala yang terasa berat untuk tegak. Sementara, kulihat kondisi Tante Tari lebih kepayahan dariku. Fisik dan psikis. Ia amat terpukul, karena sehari-hari beliaulah yang mengurus simbah. Beliau menantu yang tinggal serumah dengan simbah. Ibu sebagai anak perempuan simbah, tidak bisa terus berada di dekat simbah karena semenjak menikah, ibu tinggal bersama bapak di kota kelahiran bapak.

Smartphone-ku berbunyi. Nomor asing. Kukira dari sanak-keluarga Wonosobo. Kuangkat seraya keluar dari ruangan. Ternyata, orang tua calon murid baru yang sebelumnya sempat meneleponku.

"Bu, setelah saya diskusi dengan keluarga, gimana kalau saya masukkan anak saya hari Kamis besok. Kita coba setengah hari dulu. Takutnya nanti kalau masuk Senin langsung full day, anaknya nangis."

Rasanya aku ingin marah. Ingin kuberkata, aku tidak ingin pekerjaan menggangguku sementara ini! Tapi, sekali lagi, bukankah pekerjaan kebanyakan begitu? Meminta kita tetap berpura-pura baik-baik saja bagaimana pun kondisi kita? Siapa yang salah? Aku yang hanya manusia biasa dengan segala emosi yang kupunya saat situasi menempatku pada posisi seperti ini? Atau ia yang tidak tahu situasi yang terjadi ketika dia menelepon? Tidak ada yang salah... yang ada pemakluman atas bentrokan situasi dan kepentingan.

Aku menarik napas dalam-dalam, dengan nada ditekan, kujawab, "Bunda, maaf. Kalau minggu ini saya belum bisa mengizinkan anak bunda untuk masuk. Butuh satu orang untuk menyamankan anak baru. Kondisi tidak memungkinkan kalau minggu ini. Saya masih di luar kota. Kalau hari Senin, Insya Allah bisa. Nanti saya yang pegang."

"Oh, gak bisa, ya, Bu? Saya khawatir anaknya nangis," eyelnya.

"Tenang aja, Bun. Anak yang baru pertama masuk sekolah atau berada di lingkungan baru dengan orang asing yang belum dia kenal, biasanya memang seperti itu. Paling nangisnya di awal-awal. Kita sudah biasa menghadapi kondisi seperti itu," eyelku tidak mau kalah.

"Jadi Senin ya, Bu, bisanya?"

"Iya, Bun. Senin Insya Allah saya yang pegang. Sekarang sayanya lagi di luar kota. Lagi di rumah sakit," ujarku dengan nada yang agak menajam.

"Oh. Maaf, Bu. Lagi di rumah sakit, ya? Maaf ya, Bu. Maaf, jadi mengganggu."

"Gak apa-apa, Bu. Santai aja. Besok ibu bisa ketemu langsung dengan rekan saya untuk informasi lebih lanjut. Atau soal biaya, boleh langsung bertanya dengan pihak yayasan," ujarku dengan nada yang mulai melunak.

Setelah mengucapkan terima kasih dan berbalasan salam, telepon pun ditutup. Aku masuk kembali ke dalam ruangan. Dari celah tirai yang menutup area tempat tidur, aku melihat jenazah simbah sudah ditutupi kain. Tepat lurus dari pandanganku, tampak biji-biji air merayap turun di kaca jendela. Hujan yang turun sedari tadi belum juga berhenti.

Aku menghampiri Tante Tari yang masih terduduk lemas di sofa. Ibu berbicara dengan Om Asih, adik bungsunya. Yang juga suami dari Tante Tari.

"Dek Tari ke sini naik apa?"

"Motor," jawab Om Asih.

"Dek Tari pulangnya ikut kita aja. Kondisinya udah kecapean. Terus juga perlu ada orang yang nunggu di sana sampe jenazahnya simbah dibawa ke rumah," kata ibuku.

Ibu juga mengajak orang tua tanteku untuk ikut bersama mobil yang kami tumpangi. Aku merasakan ketegaran di nada bicara ibu. Ibu pasti menitikkan air mata. Tapi tidak dengan lengking ratapan. Ibu lebih bisa menguasai diri di hadapan banyak orang. Entah saat ia sendirian.

Aku, ibu dan orang tua tanteku memapah tanteku menuju mobil. Tapi begitu aku menyarankan untuk naik lift, ibuku mendadak takut. Lift identik dengan naik atau turun dari ketinggian. Ibu lebih memilih turun lewat anak tangga. Akhirnya, aku dan orang tua tanteku yang memapah tanteku. Sementara ibu, menunggu di lantai pertama. 

Sampai di lantai pertama, tanteku mulai mengeluhkan kakinya yang kram. Pun asmanya kambuh. Ia limbung. Pingsan. Lantas, dilarikan ke IGD untuk mendapatkan oksigen. Ibu meminta saudara perempuan yang lain untuk menemani tanteku beserta ibunya. Karena aku sekeluarga akan pulang duluan untuk persiapan jenazah di rumah duka.

Seusai situasi lintang-pukang itu berlalu, kami keluar dari rumah sakit. Aku mengekor di belakang ibu. Bapak sudah menunggu di mobil. Di luar rumah sakit, hujan menghantarkan dingin yang menggigilkan tubuh.

Hujan luruh di penghujung usiamu. Hujan ini membawa satu ingatan yang lain pada kotak kenangan dalam hidupku: rumah sakit, kalimat syahadat, waktu magrib dan detik-detik terakhir bersamamu.

Mobil melaju menjauhi rumah sakit. Hangat rebak di sepasang bola mata. Menjelma bulir air. Jatuh menitik. Lalu hilang tersamarkan gelap.

*

R.S PKU Wonosobo, 05.04.2017

____________________________

1. "Yon, coba kamu hubungi Parkiyo. Biar ngomong sama simbah. Barangkali simbah nungguin Parkiyo.
2. "Iya. Mas Par katanya lagi pelatihan di Jakarta. Besok katanya mau ke sini. Ini mau tak hubungi lagi."
3. "Mas, kamu masih di Jakarta? Ini mas, tolong, kamu ngomong sama simbah. Kondisinya simbah makin kritis.
4. "Mbah, saya Parkiyo. Saya mau ngomong sama simbah. Saya minta maaf, ya, Mbah. Insya Allah, besok saya pulang ke situ. Simbah ngucap niruin saya, ya."












READMORE
 

Arti Sebuah Tim Kerja

Apa itu tim kerja?

Pertama kali, yang terbayang dalam benakku adalah sekumpulan orang-orang yang bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan. Aku tidak berpikir lebih dari itu.

Lalu, apa itu arti sebuah tim kerja?

Satu tahun pun berlalu, anak-anak di daycare tempatku bekerja mulai membanyak. Aku bersejajar dengan rekan kerja yang lain mendampingi anak-anak sesuai klasifikasi usianya. Tarik-ulur emosi, silang pendapat, bertukar pikiran pun mulai intens terbuka antar rekan kerja. Kedekatan antar personil pun mulai terjalin. Biasanya, yang berkarakter mirip, memiliki magnet yang mendekatkan satu sama lain. Kemudian, aku mulai berpikir, tim kerja bukan sekadar bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan. Tapi juga tempat kita berbagi, berkeluh kesah tentang pekerjaan atas dasar rasa senasib sepenanggungan.

Selanjutnya, apa arti sebuah tim kerja untukku?

Dua tahun berjalan di jalan yang sama, banyak warna dan suasana yang terbangun. Lantas, aku mulai berpikir, tim adalah keluarga kedua. Di mana kami sudah saling memahami kekurangan dan kekuatan masing-masing. Di mana kami mulai sering berkompromi bila pendapat, tindakan, dan pemikiran setiap anggotanya tidak sealur. Di mana kami tidak merasakan jarak terbentang lebar dan tidak perlu lagi malu menutupi bagian dari kebiasaan-kebiasaan terburuk sekalipun. Adakalanya, kejengkelan-kejengkelan terjadi. Atau terjebak dalam kondisi-kondisi tertentu yang memancing kemarahan. Tapi dengan mudahnya kami tertawa-tawa kembali. Dan setiap merasakan tekanan dan tuntutan pekerjaan, kita sama-sama menggila agar tetap waras.

Sekarang, apa arti sebuah tim kerja untukku?
 
Lalu, empat tahun berlalu. Beberapa anggota tim potensial mulai pergi. Pekerjaan menuntut kami lebih keras. Perusahaan lupa mengapresiasi. Lupa menghargai. Dan mewajarkan tuntutan sebagai timbal balik gaji. Aku pun sama jenuhnya dengan mereka yang memilih pergi. Tapi, aku masih mencoba untuk tetap tinggal. Berharap segala bisa membaik.

Sedih, itu pasti. Meski kami masi tetaplah keluarga yang tak memutuskan silaturahmi.

Aku limbung sesaat. Butuh waktu untuk siuman dan menata kekuatan diri. Dengan tertatih-tatih aku tetap berjalan. Aku begitu merasakan, betapa tidak mudah menyolidkan tim baru. Seperti memulai dari nol. Begitu menguras emosi.

Banyak kesalahan terjadi. Idealisme yang sudah tertanam di sistem perusahaan kerap kubenturkan dengan pemakluman-pemakluman yang menyesuaikan kondisi anggota baru. Rasa keluarga kedua dalam bekerja sudah terpola dalam kepalaku. Kutahan kata-kata atas segala kesalahan terjadi. Kuberusaha memberikan contoh tindakan sebagai cara untuk memperbaiki kesalahan.

Kurangkul mereka. Kupendekkan jarak agar mereka tidak kaku memandangku seperti label yang tercantum dalam struktur organisasi lembaga. Kuturunkan standarku setara dengan tingkat kedewasaan usia mereka. Aku berusaha masuk ke dalam dunia mereka. Kuciptakan suasana rumah. Bukan kantor. Aku lebih suka menganggap mereka sebagai adik atau mitra. Dan itulah stimulus membangun kenyamanan kerja bagiku.

Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Dan aku tidak mengatakan ini sudah berhasil. Tapi... aku mulai merasakan prosesnya. 

Sekarang, apa arti sebuah tim kerja untukku? Masih tetap keluarga kedua. Dan mungkin tetap begitu, sekalipun pada saatnya nanti aku juga akan memilih pergi dari atap yang menaungi kebersamaan kami...



 
READMORE
 

#2#Memoar-Bulan Ke-12

Bulan ke-12.

Kau menengok ke belakang, memundurkan ingatan. Kejadian demi kejadian berlintasan dengan membawa jejak rasa masing-masing.

Ingatanmu berpijak pada satu masa, saat kau kehilangan beberapa anggota terbaik timmu setelah bulan keenam kau menjalani tanggung jawabmu yang baru.... 

Meski sudah cukup lama kau mempersiapkan diri untuk keadaan ini... tetap saja, kepincangan begitu terasa. Langkah menjadi tidak seimbang. Rasanya seperti memulai kembali dari awal. Kacau-balau. Karut-marut. Tertatih-tatih, kau meyakinkan diri bahwa keadaan ini bisa kembali kau tundukkan dengan anggota tim yang tersisa....

Kerapkali kau katakan pada diri sendiri, “Kuatlah.” 
Atau kau menantang kepenatan itu dengan pertanyaan sekaligus jawaban, “Keadaan sulit? Aku lebih sulit lagi untuk menyerah.” 

Lalu, ingatan membawa pada saat-saat dimana mau tidak mau kau menjadi orang yang kerap diandalkan.... 

Entah berapa kali tampungan emosimu pecah. Katarsis yang kau peram meledak dan segala isinya berebut keluar dari tempatnya. Tangis. Amarah. Kekecewaan.
Ledakan tangis ketika pundakmu mulai terasa letih memikul dan kakimu terlampau kebas untuk melangkah; ketika kau rasakan keadaan kian memburuk dan sulit untukmu membuatnya sedikit lebih baik; ketika kau sadari begitu banyak kesalahan terjadi.

Ledakan amarah ketika kau membutuhkan uluran tangan tapi kau dapati dirimu bagai sebuah titik di semesta yang terlampau luas; ketika banyak hal di luar dirimu yang bertentangan dengan isi kepala dan hatimu.

Kekecewaan ketika kau dapati ketidak-sesuaian antara tindakan dan perkataan orang-orang yang menjadi junjunganmu hingga rasa hormatmu meluntur. Kekecewan pada dirimu ketika kau lupa satu hal bahwa bergantung kepada orang lainlah yang kerap melahirkan kekecewaan itu sendiri.

Dan disaat yang bersamaan juga kau merasakan penerimaan diri, tekad untuk tetap berjuang, kekeras-kepalaan untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan.

Penerimaan diri ketika kau berusaha tidak kehilangan dirimu di titik-titik tersulit yang harus kau lalui; ketika kau mengakui kelemahan diri dengan ketidak-berdayaanmu dan menemukan ruang untuk berdialog dengan-Nya; ketika kau mulai memahami dan menerima apa yang tengah dirimu rasakan; ketika kau bisa kembali bersahabat dengan dirimu sendiri dan berdamai dengan keadaan.

Tekad untuk berjuang ketika kau telah bisa menertawai diri sendiri dan kembali menjadi orang yang keras kepala untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan. 

Dan ingatan menggiringmu disaat-saat kau belajar memahami apa itu “leadership”... hingga kini. 

Leadership mengajarimu berkata-kata lewat sikap dan tindakan. Bukan berkata-kata menegaskan di mana posisi dirimu berada. 

Leadership bukan banyak-banyak menggunakan dan mengarahkan telunjukmu pada orang lain. Ia merangkul semua lapisan dengan segala kerendahan hati. Ia menggandeng erat untuk maju bersama.

Dan kau merasakan masih belum layak di posisi itu. Sungguh, kau masih sangat-sangat jauh dari kata layak untuk itu dengan segala emosimu yang mudah sekali meledak. Bahkan, kau bersedia, untuk menyerahkannya pada yang berpembawaan tenang atau “bertangan dingin” bila memang perlu.

Selama ini, yang kau lakukan hanyalah berusaha menciptakan “suasana rumah” di tempat kau mendulang rupiah; dan menganggap orang-orang yang berada didalamnya lebih sering bagai adikmu sendiri, bagai anggota keluarga.
Kau tertawa terbahak-bahak bersama mereka; merangkul dan mengacak-ngacak kepala mereka saat dirimu begitu senangnya; dan terkadang berkelakuan “sedikit gila” di depan mereka ketika beban pekerjaan begitu menekan tanpa mengkhawatirkan sebuah “harga wibawa”.

Tapi, ketika suatu target telah kau tetapkan dan dibutukan kerjasama tim untuk mencapainya atau situasi mengharuskanmu memberikan arahan, bimbingan dan perintah... kau bisa menjadi begitu serius. Kau juga tak menampikkan kesalahan-kesalahan yang kau lakukan dan segala kekurangan yang kau miliki selama melewati banyak hal bersama mereka. Karena itu lebih melegakan bagimu.

Dan saat bersama mereka, kau menjalankan tanggung jawabmu tanpa sering menegaskan siapa mereka dan siapa dirimu; di mana posisimu dan di mana posisi mereka. Kau berusaha memberikan stimulus yang berbeda... dengan cara pandang yang berbeda pula. Karena itu lebih menyamankan bagimu.

Karena kau berpikir, “Apa yang akan dibawa setelah kau tak lagi tinggal seatap dengan mereka? Dan apa yang akan kau tinggalkan di sana? Bukankah struktural itu hanya label yang nantinya tergantikan? Bukankah yang langgeng terbawa adalah kenangan jalinan pertemanan yang kuat?” 

Bulan ke-12. Langkah kaki tidak berhenti sampai di sini. Dan kau hanya memiliki satu pilihan: terus melangkah ke tujuan-tujuan yang telah kau pancangkan.
READMORE
 

Anak Perempuan Penjual Kerupuk

Seorang anak perempuan dengan jinjingan plastik hitam besar di tangannya, lewat di depanku. Wajah anak itu tak asing lagi bagiku. Beberapa kali menikmati semangkuk bakso di kantin dekat masjid, ia sempat singgah ke mejaku untuk menawarkan kerupuk yang dalam plastik hitam besar itu. Begitu pun yang terjadi kali ini. Di suapan kedua kala kumenikmati bakso, ia datang menghampiriku. Ia menjual kerupuknya dan aku membelinya seperti yang sudah-sudah. Setelah aku membelinya, ia lanjut berkeliling dari meja ke meja lantas pergi entah kemana.
 
Lama melenyap dari pandanganku, kembali kulihat ia berdiri mematung tak jauh dari mejaku.
 
“Sini, duduk, De,” kataku.
 
Anak itu berjalan mendekati mejaku dengan senyum malu-malu. Ia letakkan plastik berisi kerupuk yang dijinjingnya lalu duduk di hadapanku. Di pertemuan sebelumnya, sepintas aku pernah berbicara dengannya. Informasi yang masih kuingat dari pertemuan kami sebelumnya hanya dua. Pertama dia masih SD. Entah kelas berapa. Aku tidak bertanya padanya saat itu. Kedua, dia berjualan kerupuk setelah pulang sekolah. Namanya? Aku lupa. 
 
Setelah kami saling memberitahukan nama masing-masing, aku baru ingat kalau ia pernah menyebutkan namanya di pertemuan sebelumnya. Aku mudah lupa dengan nama. Lebih gampang merekam wajah dalam jangka waktu lama daripada mengingat sebuah nama. Apalagi bila seseorang itu sudah lama tidak berinteraksi denganku. Kecuali nama orang-orang terdekat dan orang-orang yang menorehkan dua momen berharga dalam hidupku. Momen membahagiakan dan menyedihkan. Nama-nama di dua momen itu, terpatri dalam ingatan.
 
“Nur, ibunya mana?”
 
“Lagi jagain adik, Kak.”
 
“Berarti Nur ke sini sendiri?”
 
“Sama ibu. Tapi, ibunya lagi di masjid. Ngajar ngaji.”
 
“Ngajar ngaji sambil jagain adik?”
 
Nur mengangguk. Ada magnet yang membuatku tertarik untuk bercakap-cakap dengannya. Semacam rasa simpati dan empati. Dan secara sosial-emosi, bisa kurasakan, ia lebih matang dari anak-anak seusianya. Inilah yang mendorongku untuk mengulik lebih jauh kehidupan anak perempuan kelas 2 SD ini. 
 
“Eh, pelajaran apa yang Nur suka? Di sekolah teman-temannya gimana? Baik-baik gak?”
 
“Nur suka sama pelajaran Pendidikan Agama Islam, Kak. Teman-temannya ya ada yang baik dan ada yang gak,” katanya.
 
Aku hanya bertanya sedikit, ia menjawab dengan begitu banyak cerita. Cerita dimulai dari teman sekelas yang menurutnya “paling bandel”. Namanya (sebut saja) Emon. Kata Nur, Emon pernah menukar buku PR miliknya dengan buku PR milik (sebut saja) Jensen. Alasannya, karena Emon belum mengerjakan PR. Saat Emon menukar buku PR itu, Jensen sedang tidak berada di kelas.
 
WOW?! Apakah itu efek dari bombardir media elektronik yang menampilkan tayangan-tayangan kurang mendidik bagi anak-anak? Terutama anak-anak yang ketika menontonnya tidak ada arahan dan pendampingan dari orang tua. Kalau iya, selamat! Saya tidak heran. Tapi, prihatin.
 
“Terus, dia suka nyontek kalau ulangan. Bukunya, tuh, diumpetin di bawah kertas ulangannya. Nur, sih, gak mau kayak gitu. Curang namanya,” tambah Nur.
 
Dulu, semasa SD, ibu tidak memarahiku bila aku mendapat nilai ulangan jelek. Nilai ulangan jelek bukan masalah selama hasil usaha sendiri dengan tetap menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Ibu mengajarkan, nilai jelek artinya, aku harus berusaha lebih gigih dan giat lagi untuk mendapat nilai yang lebih baik tanpa harus mencoreng prinsip kejujuran. Ibuku justru akan lebih marah bila aku mengganti nilai asli yang diberi guru di kertas ulangan atau buku PR-ku.
 
“Iya, bener, Nur. Gak apa-apa nilai ulangan jelek yang penting jujur hasil sendiri. Lebih baik lagi kalau nilai ulangannya bagus tapi tetap jujur. Bukan dari hasil menyontek,” tanggapku.
 
Ada dua perasaan yang bercokol di hatiku. Miris sekaligus tersentuh. Miris karena, kecurangan sudah tertanam di usia sedini itu. Tersentuh, karena masih ada anak-anak yang memegang prinsip kejujuran. 
 
“Ketahuan gak sama bu guru?”
 
“Ketahuan.”
 
“Terus, akhirnya gimana?”
 
“Emonnya dimarahi.”
 
“Dijewer juga gak?” tanyaku lagi.
 
“Iya,” jawab Nur.
 
Deg! Ada yang berteriak tidak setuju di dalam hatiku ketika mengetahui hukuman apa yang diberikan guru kepada Emon. Cerita pun berlanjut. Masih tentang Emon. Dari yang diceritakan oleh Nur, aku mendapat gambaran soal Emon. 
 
Emon dididik dengan kekerasan secara fisik dan verbal. Nur mendapatkan cerita dari ayahnya yang berteman dengan ayah Emon. Ayah Emon tak segan-segan menendang Emon. Dan mulutnya mendadak menjadi kebun binatang. Segala binatang tercurah keluar untuk Emon saat emosinya meledak. Pernah Ayah Nur menasehati Ayah Emon agar tidak seperti itu. Tapi hanya dianggap angin lalu olehnya.
 
“Ibunya Emon kerja apa?”
 
Nelembuk. Kawin-cerai. Anaknya banyak. Bapaknya gak tahu siapa aja,” kata Nur dengan polosnya.
 
Sampai di bagian ini, mirisku bertambah-tambah. Maksud “nelembuk” di sini adalah melacur. Aku bisa membayangkan di lingkungan bagaimana Emon bertumbuh. Keluarga yang seharusnya menjadi madrasah pembelajaran, pelindung, benteng pertahanan pertama dan utama, malah menciptakan situasi-kondisi pelik yang memberi pengaruh buruk bagi anak.
 
Aku tidak bisa menghakimi bahwa orang tua Emon adalah orang tua yang tidak benar. Karena segala akibat pasti ada sebabnya. Orang tua Emon sendiri adalah produk pola asuh dan pola didik dari orang tua terdahulu. Bisa dibilang, orang tua Emon adalah korban sekaligus pelaku.
 
Mereka korban dari kesalahan pola asuh dan pola didik di zaman orang tua terdahulu. Pula pelaku dari kekerasan fisik dan verbal terhadap anak mereka sendiri ketika mereka menjadi orang tua di zamannya. Korban sekaligus pelaku tak ubahnya seperti warisan yang ditemurunkan dan terus berputar bagai siklus lingkaran setan. Dan akan terus begitu bila tidak ada yang berani memutusnya.
 
Tak terasa bakso di mangkokku sudah tandas. Kulirik bungkusan plastik yang kubawa. Aku sempat membeli seblak sebelum ke kantin Masjid. Tadinya, mau kumakan di rumah. Tapi, melihat anak perempuan yang ada di hadapanku, alih-alih memperpanjang percakapan kami, mendadak aku ingin berbagi makanan ini bersamanya.
 
“Nur, kamu suka seblak, gak?”
 
“Suka sih. Tapi yang kering.”
 
“Ini seblak kering, gak berkuah. Mau?”
 
“Gak ah, Mbak.”
 
“Kenapa?”
 
“Malu.”
 
“Gak apa-apa. Atau gini aja, deh. Kalau kamu malu, kita makannya bareng-bareng,” bujukku.
 
Akhirnya, ia mau makan seblak yang kutawarkan.
 
“Eh, tapi agak pedes seblaknya, gak apa-apa? Nur suka pedes gak?” tanyaku ketika teringat seblak yang kupesan pedas.
 
“Suka,” jawabnya.
 
Baru beberapa suap, aku melihat keringat di hidungnya dan suara desah kecil kepedasan.
 
“Sebentar, kakak ambilkan minum.”
 
Kubuka lemari pendingin yang berada tak jauh di belakangku. Kuambil sebotol minuman teh dan memberikannya kepada Nur.
 
“Makasih, Kak.”
 
Cerita pun kembali bergulir. Kali ini tentang kisahnya sendiri. Katanya, ia pernah dimintai uang oleh temannya terus-menerus. Awalnya, Nur memberikan sebesar Rp. 3.000. Nur masih menyisakan uang untuk dirinya sendiri sebesar Rp. 2.000 dari total uang sakunya yang sebesar Rp. 5.000. Dari apa yang Nur lakukan, aku menemukan kecerdasan strategi seorang anak dalam menghadapi masalah ‘pemalakan’.
 
“Temannya sampai ngancam kamu, gak, Nur?”
 
“Gak, sih, Kak.”
 
“Kalau sampai dia main pukul, lapor aja ke bapak atau ibu guru,” saranku.
“Saya juga udah bilang ke anaknya.”
 
“Bilangnya gimana?”
 
“Jangan mintain uang saya terus. Kamu, tuh, udah dikasih uang sama bapak kamu 7.000, sama nenek kamu juga 5.000, masih minta aja minta,” kata Nur pada temannya pada waktu ia dipalak.
 
Lagi, intuisiku terbukti. Salah satu kematangan emosi pada dirinya tampak. Ia berani menolak saat kelakuan temannya sudah tidak bisa ditolerir atau sudah merujuk pada penindasan. Ia mencoba jalur diplomasi ala anak SD. Ia menolak dengan kata-kata yang lebih mirip mengingatkan temannya itu akan konsep bersyukur akan uang yang dimilikinya.
 
“Tapi, akhirnya kamu lapor ke bapak atau ibu guru?” tanyaku masih penasaran.
 
“Lapor. Sampai akhirnya orang tuanya dipanggil ke kantor. Baru dianya berhenti minta uang.”
 
“Orang tuanya dibilangin apa sama gurunya?”
 
“Katanya, kalau masih minta-minta uang, orang tuanya disuruh bayar kaos olahraga. Kaos olahraganya gak jadi dikasih gratis.”
 
Lalu dia bercerita tentang jadwal olahraga kelasnya. Sementara, pikiranku masih mencerna cara penyelesaian yang dilakukan oleh sang guru. Terngiang-ngiang kalimat KALAU MASIH MINTA-MINTA UANG, KAOS OLAHRAGANYA GAK JADI DIKASIH GRATIS. 
 
Hatiku berbicara, otakku berpikir, tidak bisakah mencari alternatif-alternatif solusi lain yang mengedepankan komunikasi efektif dan tepat sasaran tanpa ancaman serta lebih memanusiakan manusia? Tidak bisakah mencoba bersinergi dengan orang tua untuk menemukan akar masalah sebenarnya? Bukankah solusi seperti itu hanya akan menyelesaikan masalah dengan melahirkan masalah baru? Dari sudut pandang yang kutangkap, akar masalahnya bukan pada pelanggaran finansial orang tua. Tapi lebih kepada masalah psikis anak yang butuh pertolongan dan penanganan secara tepat.
 
Lamunanku buyar. Seorang ibu separuh baya yang sehat walafiat datang dengan meminta-minta. Aku sudah menangkupkan tangan sebagai permintaan maaf tidak bisa memberi. Tapi, ia begitu ngotot tetap berdiri di situ. Akhirnya, aku keluarkan sedikit uang untuknya.
 
Setelah pengemis itu pergi, cerita Nur pun beralih topik tentang pengemis di sini. Ia mengenal wanita paruh baya itu. Wanita itu kerap berkeliaran di sini. Bahkan sempat merasa iri dengan Nur.
 
“Iya, Kak. Dia bilang, katanya saya sih enak. Ada yang ngasih 50.000. Pernah juga ada yang ngasih 100.000. Kalau ke dia, paling, orang ngasihnya 500.”
Aku tak heran bila ada orang yang memberi Nur uang lebih banyak dari harga jual kerupuknya. Dua alasan yang kupikir sama seperti yang kurasakan ketika melihat Nur menawarkan kerupuknya. Simpati dan empati untuk seorang anak perempuan yang bekerja keras di usia dini.
 
“Saya bilang aja sama dia, ‘kan saya jualan, bukan minta-minta’,” kata Nur.
“Iya. Itu orangnya sehat tapi ngemis. Lebih baik jualan kayak Nur daripada ngemis-ngemis. Pantang untuk ngemis-ngemis sama orang dalam hidup, Nur,” ujarku sedikit memanasinya.
 
“Iya. Saya juga gak suka, Kak. Yang tambah bikin gak suka, mereka suka bawa anak.”
 
Matanya lalu mengedarkan pandang ke sekeliling. Entah apa yang dicarinya.
“Anaknya seumur itu, tuh, Kak,” tandasnya sembari menunjuk seorang anak kecil tak jauh dari tempat kami duduk. Aku perkirakan anak itu berusia sekitar 4 tahunan.
 
“Masa anaknya ngemis gak tahu sampai ke mana, tapi, ibunya cuma ongkang-ongkang. Duduk-duduk. Saya marahin aja.”
 
“Marahin gimana?” pancingku.
 
“Ya saya bilangin, ‘eh, itu anaknya ngemis, ibunya malah duduk-duduk’.”
 
“Kadang-kadang, anak yang mereka bawa juga itu bisa jadi sewaan, loh,” aku menambahkan.
 
“Iya. Malah ada yang usianya lebih kecil dari anak yang tadi, Kak.”
 
“Memang, segimana usianya?”
 
“Ya masih ngerondang. Masih ngerangkak. Kalau ada orang lewat, tangannya diajarin kayak orang minta-minta gitu,” ujar Nur sembari memperagakan dengan gerakan tangan meminta, “ya orang yang ngelihat gimana ya. Pasti ngasihnya karena kasihan. Anaknya pernah ngerangkak sampai hampir ketabrak mobil juga,” lanjutnya.
 
Astaghfirullah, jahat sekali mereka,” geramku.
 
“Iya, Kak.”
 
Kuperhatikan sedari tadi makan seblak bersamanya, ia sama sekali tak menyentuh sosis, bakso, makroni atau kerupuk basah yang ada dalam campuran seblak.
 
“Kamu gak suka makroni sama kerupuk basahnya? Atau baksonya gitu?”
 
“Gak, Kak. Kalau makan kerupuk basahnya bikin perut enek.”
 
“Sukanya kubis sama telur ya?”
 
“Iya.”
 
“Eh, ngomong-ngomong, itu kerupuk yang Nur jual itu hasil bikinan sendiri?”
“Bukan. Itu punya orang lain. Saya bantu jual. Uangnya kadang buat beliin adik bakso. Bakso kering 3.000. Adik saya suka bakso kering.”
 
Ah, anak ini. Aku begitu terenyuh dan merasa kecil di hadapannya. Disamping karena kemandiriannya, Nur mungkin sudah banyak melihat fenomena memprihatinkan secara langsung dan nyata di depannya. Tak heran bila pola pikirnya lebih matang dan dewasa dibanding anak seusianya.
 
“Aku juga pernah diajak naik ke mobil orang yang gak aku kenal, Kak.”
 
“Kamu pernah mau diajak ngemis juga?” tanyaku sedikit terkejut.
 
“Gak tau mau diajak ke mana. Sayanya nolak. Takut nanti dijual organ tubuhnya.”
 
Lagi-lagi, aku menemukan sisi kematangan sosial-emosi pada dirinya. Ia peka terhadap perkembangan berita sosial-kriminal. Juga sikap waspada yang sudah tertanam pada dirinya. Orang tuanya mungkin sudah memberikan bekal pengetahuan yang cukup untuk ia menjaga dirinya dari orang asing yang mencurigakan. Aku sungguh penasaran, bagaimana pola asuh dan pola didik yang diterapkan orang tua Nur.
 
“Cara ngajaknya gimana?”
 
“Tangan saya ditarik. Dipaksa ikut.”
 
“Terus, gimana caranya kamu bisa lolos?”
 
Nur memperagakan cara ia menolak orang yang memaksanya ikut ke dalam mobil. Ia mengibas-ngibaskan tangannya kuat-kuat. Dan berulang kali berteriak mengatakan tidak mau.
 
“Alhamdulillahnya ada satpam yang datang waktu itu. Gara-gara ada satpam juga, akhirnya ketahuan kalo mobil mereka itu mobil curian.”
“Terus, akhirnya gimana?”
 
“Akhirnya diserahin ke polisi.”
 
Tanpa terasa, seblak di hadapan kami sudah habis. Selang beberapa menit setelah seblak habis, ia mengakhiri cerita dan berpamitan.
 
“Kak, aku mau keliling lagi, ya. Makasih minuman sama seblaknya.”
 
“Oke. Kapan-kapan kita bisa cerita bareng lagi di sini.”
 
“Pamit ya, Kak.”
 
“Ya.”
 
Aku pun pergi ke kasir. Sebelum aku menuju parkiran motor, lingkar mataku masih mencari sosok Nur. Tampak ia tengah menjual kerupuknya kepada orang yang berada di sebelah meja tempat kami berbincang tadi. Aku mendekatinya untuk berpamitan.
 
“Nur, Kakak pulang, ya.”
 
“Iya, Kak. Makasih.”
 
“Sama-sama.”
 
Ada sebuah pembelajaran yang kubawa siang tadi. Aku pulang dengan perasaan yang... ah, katakanlah campur-campur. Melalui media elektronik, aku sudah sering mendengar realita-realita yang diceritakan Nur. Pula aku kerap membaca realita-realita seperti itu dalam buku-buku atau media cetak. Tapi, berinteraksi langsung dengan orang yang mengalaminya, rasanya jauh lebih menyentuh daripada mengetahuinya lewat media-media tersebut. Nur adalah anak yang sudah mengakrabi fenomena tersebut dalam kesehariannya.
 
Pulang meninggalkan masjid yang berdiri megah di alun-alun kota, sebuah pertanyaan besar mengusikku, kontribusi apa saja yang bisa kulakukan untuk menjadi bagian dari gerakan perubahan sesuai dengan kapasitas dan kemampuanku?
 
Teringat sebuah petikan puisi karya Chairil Anwar
KAMI SUDAH COBA APA YANG KAMI BISA/ TAPI KERJA BELUM SELESAI/ BERJAGALAH TERUS DI GARIS BATAS PERNYATAAN DAN IMPIAN/
 
Jadi, kamu mengeluhkan apa kali ini? 
 
-Vinny Erika Putri, Cirebon, 28-08-16, penjelajahan “menepi sejenak”
READMORE