Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Was Okay Not To Be Okay

It Was Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Apakah Kau Merindukan Ayah?

Ajari Aku Merindukan Ayah Sebelum Titik Penyesalan Datang

Kita

Ketika Dari Titik Perih Yang Sama Persahabatan Dimulai

Teamwork

Makna Sebuah Teamwork

Senin, 11 Juni 2018

#1-Behind The Scene-Jejak Editor Amatir



"Untuk UAS Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini, tugas analisis pengaruh sarapan ke pembelajaran anak dibatalin. Gantinya, nerjemahin isi buku," jelas Bu Sutiah ketika kumenanyakan soal tugas-tugas kuliah di hari Sabtu.

Sabtu itu, aku tidak bisa menghadiri perkuliahan dikarenakan sakit.

"Nerjemahin buku gimana maksudnya, Bu?"

"Nanti satu buku dibagi sejumlah orang di kelas untuk menentukan jumlah halaman yang dikerjakan masing-masing individu."

"Oh, ya sudah. Gak papa kalau begitu. Lebih enak malah daripada nganalisis data gizi. Ada google translate untuk mempermudah ngerjain tugasnya," tanggapku.

Pikiranku tentang tugas tersebut pada saat itu masihlah sederhana: translate dengan bantuan google, review-koreksi-perbaiki sendiri sebelum dikumpulkan ke dosen, review oleh dosen, revisi, selesai. Kalaupun nanti dijadikan buku, hanya tinggal mengumpulkan print out dari masing-masing tugas individu.

*

Sabtu berikutnya.



"Vin, maju ke depan. Kita bagi halamannya sekaligus nama orang-orangnya. Hitung ada berapa halaman. Terus dibagi sejumlah orang di kelas," titah dosen.

Aku maju ke depan kelas. Kuhampiri dosen untuk memastikan darimana pengerjaan halaman buku dimulai.

"Bu, introduction perlu diterjemahkan juga atau tidak? Atau dimulainya dari bab isi aja, dari mulai part I. Dari sini bukan, Bu?" ujarku sembari menunjukkan file halaman buku yang tertera di layar smartphoneku.

"Langsung ke part I nya aja gak papa," respon dosen.


"Oke. Total berarti 400 halaman dibagi 17 orang. Satu orang berarti mengerjakan 23 halaman untuk ditranslate," kataku.

"Vinny catat di papan tulis. Tetep harus ada yang punya catatan tugas ini selain semua juga memiliki catatan masing-masing," titah dosen pengampu mata kuliah tersebut.



Pembagian pun dimulai. Jumlah halaman yang dikerjakan mengikuti urutan absen. Pembagian selesai, aku masih berdiri di depan kelas. Kulihat raut wajah teman-teman sekelas rata-rata bagaikan benang masai. Sementara wajahku masih belum sekusut mereka.

Optimisme masih di genggamanku. Berdasarkan takaranku terhadap kemampuan diriku sendiri, menerjemahkan 23 halaman jurnal berbahasa inggris untuk tugas UAS, masih bisa tertangani dan dikerjakan maksimal dengan waktu deadline 2 minggu. Dan dengan pikiranku yang masih sesederhana itu soal tugas ini, kurasa aku juga masih bisa membantu satu-dua-tiga orang teman yang mengalami kendala di fasilitas seperti tidak adanya laptop pribadi atau masalah teknis (yang berhubungan dengan teknologi) dalam pengerjaan tugas ini.



"Nanti saya minta datanya, ya, Vin," ujar dosen.



“Saya foto aja, ya, Bu. Nanti saya kirim ke whatsapp grup."

"Boleh."

Tak hanya aku, lingkar mata dosen tersebut pun menangkap wajah-wajah dengan alis berkerut dan menegang yang ada di hadapannya, “Kelihatannya pada keberatan, nih, dengan tugas UAS-nya? Jangan takut dulu sama jurnal, Ibu-ibu ."

"Bu, kalau tes tertulis saja gimana?" Bu Mia mewakili suara-suara yang bungkam.

Sementara aku masih mematung di depan kelas.

"Sekarang, saya boleh kembali ke tempat duduk, Bu?” ujarku yang tak ingin lama-lama berdiri di depan kelas mengamati negosiasi model UAS yang akan disepakati.


"Oh, iya. Silakan."

Aku duduk.



“Oke. Saya kasih pilihan sama teman-teman. Kalau tes tertulis, syaratnya, tas dan semua HP di depan pada saat pelaksanaan. Kalau menerjemahkan jurnal, berarti ujian take home, waktu pengumpulannya kita sepakati bersama. Bagaimana?” tawar dosen.

Hening sesaat. Tik tok tik tok. Seperti tengah menimbang-nimbang. Aku memperhatikan dengan santai. Bagiku pribadi, ujian dengan kondisi baik seluruh catatan maupun HP “disita” tak masalah. Sama tak masalahnya bila harus menerjemahkan jurnal sebanyak 23 halaman. Tak ada bedanya. Kuserahkan pilihan pada suara terbanyak.

“Kalau jurnal kan kalian bisa mengerjakan di rumah. Waktunya juga panjang,” tandas dosen.

Aku sudah paham. Jurnal adalah pilihan terkuat yang lebih direkomendasikan dosen sedari awal proses negosiasi. Maka dari itu, aku tak berselera untuk berdebat kalau pilihan dari awal sudah diteguhkan seperti itu dan tawar-menawar hanya sebagai penggembira belaka.

“Ya sudah, Bu. Translate jurnal aja,” jawab beberapa teman.

Jawaban yang kurasakan bertentangan dengan keinginan mereka. Jawaban yang kumaknai sama dengan batinku: memperpanjang negosiasi saat itu adalah hal yang percuma karena pada akhirnya, bukan kita yang menentukan. Sementara sebagian lainnya yang bungkam, mengekor jawaban yang sudah dilontarkan dengan menyisakan garis kerumitan di wajah masing-masing.

Akhirnya, sepakat: UAS untuk mata kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini take home, dengan model tugas menerjemahkan jurnal ilmiah.

“Oke. Nanti kalau sudah ditranslate, saya review. Hasil review, kalau masih ada revisi, nanti direvisi teman-teman. Kalau sudah direvisi, diserahkan ke Vinny untuk proses editing akhir. Kalau bisa dikasih covernya dikash gambar ya, Vin.”

Gleg! Aku menelan liur. Aku tersenyum kaku. Dalam hati, aku menertawai diri sendiri. Menertawai pikiran yang terlalu sederhana. Di titik ini, seketika kurasakan semua tak lagi sederhana. Kerumitan mulai tercipta di benak. Di kepala, berputar tak henti-henti: editing, editing dan editing.

"Waktu dari proses translate sampai editing akhir jadi buku berapa lama, Bu?" tanyaku.

“Temen-temen maunya gimana?” tanya dosen.

“Dua minggu untuk translate, seminggu untuk proses editing, gimana, Bu?” usulku dengan hati yang tak seyakin biasanya.

"Oke. Biar kaliannya juga konsentrasi untuk persiapan UAS mata kuliah yang lain aja dulu, ya."

Kepalaku berdenyut-denyut. Editing jurnal sebanyak 400 halaman dalam waktu seminggu. Segala kemungkinan yang terbaca dari karakteristik teman-teman kelasku berlintasan layaknya database program komputer di kepalaku yang sekali ‘klik’ keluar seluruh data prediksi yang dibutuhkan. Pula kumenangkap sinyal dari kompas batinku. Aku merasa tidak yakin, proses editing seminggu bisa terselesaikan. Bukan aku tidak percaya diri. Justru karena aku mampu menakar dengan baik antara kemampuanku, manajemen waktu dan masalah teknis lainnya batinku mampu berkata begitu.

*

Seminggu jelang UAS. Aku mulai mencicil tugasku sendiri. Selesai dalam waktu 4 hari untuk proses translate-review-koreksi-revisi yang kulakukan sendiri. Adanya google translate sangat membantu. Tapi, bukan berarti google translate lolos ‘sensorku’ begitu saja. Aku menghabiskan waktu 3 hari untuk review-koreksi-revisi sebelum diserahkan ke dosen.

UAS selesai. Tugas translate jurnal bagianku selesai. Satu minggu terlewat. Tersisa 2 minggu. Sementara teman-teman baru mulai mentranslate, aku membuat design cover dan membantu beberapa teman yang berkonsultasi kepadaku terlebih dahulu sebelum tugas tersebut diserahkan ke dosen. Terutama yang tidak memiliki fasilitas seperti laptop dan belum bisa memaksimalkan fungsi gadget canggih yang dimilikinya untuk menunjang pengerjaan tugas ini.

Sebanyak tiga file melewati ‘pemeriksaanku’ sebelum masuk screening dosen. Membantu memeriksa pekerjaan mereka, sama halnya memperingan tugas editingku sendiri. Empat file (termasuk milikku) sudah dalam kondisi rapi. Tekanan belum terlalu kurasakan tinggi. Aku pernah mengalami tugas-tugas yang lebih berat dari ini semasa menjalani kuliah di teknik sipil dulu.

File-file mulai terkumpul di grup mata kuliah Kesehatan dan Gizi AUD. Sebelum dosen dalam grup tersebut mereview, aku telah lebih dulu mereview file-file yang dikumpulkan teman-teman. Hasilnya: aku banyak menarik napas panjang-panjang dan memahami kendala-kendala yang dihadapi mereka. Persis seperti yang kuprediksi. Apa yang diterjemahkan adalah ‘hasil mentah” tempelan dari google translate yang tidak melewati (paling tidak) proses ‘review-koreksi-revisi’ oleh masing-masing individu. Beberapa individu yang mendapat bagian tabel, hanya mentranslate konten tabelnya saja. Kolom tabel tidak dibuat. Beberapa bagan dan diagram yang ada pun dilewat. Sembari menarik napas dalam-dalam dan menertawai diri sendiri, aku harus memahami: sudah untung mereka bisa pergi ke warnet mengerjakan tugas dengan kesibukan yang mereka miliki sebagai istri, ibu dan guru atau sudah untung mereka yang masih gagap teknologi mau berusaha mengerjakan sendiri.

Kemudian, dosen mereview hasil setiap pekerjaan teman-teman. Sebagian revisi, sebagian lolos sensor (termasuk yang sebelumnya sempat kuperiksa terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan dosen). Pertengahan minggu kedua, aku mulai total masuk proses editing. File-file yang sudah mendapatkan lampu hijau oke dari dosen mulai kusatukan. Tekanan mulai meninggi. Kuperiksa seluruh file yang telah terkumpul dengan lebih teliti lagi dari sebelumnya. Benar saja dugaanku. Hasil review dari dosen pun tampaknya tidak menyeluruh. Karena di beberapa file ada beberapa kejanggalan-kejanggalan kata-kata atau kalimat hasil translate yang lolos dari reviewnya. Haruskah kumaklumi? Bahwa beliau juga punya banyak kesibukan sehingga tidak sempat mereviewnya secara menyeluruh? Kalau begini, kepada siapa aku harus mengandalkan kepercayaan? Kepada siapa aku harus meminta bimbingan?

Mendapati kenyataan itu, aku berkata pada diri sendiri dengan tawa berisi amarah: Ha! Selamat datang tantangan! Selamat kembali menjadi single fighter!

Kekacauan lainnya juga terjadi. Dua orang teman ternyata salah mentranslate halaman setelah aku cek dengan buku aslinya dan data halaman yang dikerjakan tiap individu. Kuusahakan minta keringanan untuk teman yang salah mentranslate halaman tersebut sebelum temanku komplain. Ditolak. Tidak bisa. Karena tidak akan menjadi sebuah buku bila ada satu bagian yang terlewat. Setiap individu tetap harus mengerjakan sesuai bagiannya karena itu tugas UAS pribadi. Grup kelas pun ribut (khusus untuk kelas pribadi tanpa ada dosen siapapun). Salah satu teman yang mentranslate sempat merasa jengkel (bukan padaku), karena sebelumnya dia sudah menanyakan perihal halaman bagiannya, dan diiyakan oleh dosen. Semua mulai gerah. Nano-nano emosi pun mulai berterbangan.

*

Sepanjang proses editing, beberapa kali aku harus ‘menepi sejenak’ untuk mengendalikan ledakan-ledakan emosi negatif yang menggelegak dari dalam diri. Dulu, separah-parahnya tugas perancangan bangunan dan sejenisnya di perkuliahan teknik sipil, gesekan yang kurasakan hanyalah dengan diri sendiri ketika menghadapi deadline. Karena tugas-tugas itu adalah murni tugas individu. Ditambah, fokusku saat itu penuh untuk kuliah. Tidak terbagi dengan urusan pekerjaan.

Kini, aku harus menaklukan letupan emosi negatif dari dalam diriku sendiri, juga mengatur teman-teman agar tugas ini bisa selesai karena tugas ini adalah tugas pribadi sekaligus tugas tim. Tanpa peran serta satu individu, tidak akan tercipta menjadi sebuah buku seperti yang diinginkan dosen tersebut. Selain itu, pengerjaan tugas ini bertepatan dengan masa-masa padatnya rentetan kegiatan lembaga pendidikan masing-masing dari mulai persiapan ujian anak-anak, wisuda hingga rapotan.

Aku sempat lepas kendali ketika seorang teman tidak bisa mengatur kata-kata dengan baik. Atau lebih tepatnya menyulut emosiku yang tengah naik-turun dengan kata-kata yang tidak tepat.

"Mbak, revisianku udah bener belum?" tanya salah seorang temanku via whatapss secara pribadi.

"Udah."

"Alhamdulilah. Tugasku udah selesai kan tugasnya? Aku pengen tugas ini cepet-cepet selesai."

"Ya kamu cuma satu revisinya, punya kamu sendiri. Bisa bayangin kan posisiku yang ngedit banyak file," ujarku gemas karena kata-katanya terkesan cenderung egois.

"Ya udah, Mbak. Nikmati aja. Kan bagian tugas negara. Demi kebaikan bersama, Mbak."

Tugas negara yang dimaksud adalah tugas-tugas yang biasa dijalani kosma dan sekertaris kelas.

"Haha. Iya dinikmati aja. Makanya kamu juga gak usah ngeluh," balasku pada akhirnya dengan hati yang jengkel.

Ingin kumaklumi dengan satu kata pada waktu itu: darahnya masih terlalu muda untuk memahami tutur kata yang sesuai dan tidak sesuai terhadap situasi-kondisi kondisi yang ada. Atau belum memahami empati dari sebuah kata-kata. Juga berkali-kali kuingatkan diri ini bahwa kondisi psikis diriku sendiri juga tengah tak stabil dan cenderung sensitif. Tapi, nyatanya, meski telah berusaha, nilai diri ini tetap tak bisa memaklumi kata-kata itu.

Amarah yang sampai di puncak ubun-ubun tak bisa kukeluarkan. Kuperam-peram. Akibatnya, basah terlahir di sudut mataku. Bulir-bulir air menetes. Menjadi pecahan-pecahan amarah yang jatuh berserakan.

Lantas, batinku bergumam.

Sudahlah. Tak ada waktu untuk menangis. Pada akhirnya, nilai yang kau pegang teguh memang benar, bahwa kau harus bisa mengandalkan dirimu sendiri. Jangan bergantung pada orang. Jangan berharap ketulusan dari orang lain.

Ketegasanku pun dimulai di titik ini. Aku tidak bisa lagi menggunakan pemakluman panjang yang ujungnya akan menghambat proses editing. Karena pada akhirnya, ujung tombak penyelesaian akhir ada di tanganku.

"Aku paham, tugas ini begitu menyita seluruh tenaga, pikiran dan emosi kita semua. Tapi mau tidak mau, tugas ini harus tetap selesai dikerjakan," ujarku di grup kelas.

"Jangan emosi, Mbak," tanggap temanku yang menyulut kemarahanku saat bicara secara pribadi via whatsapp sebelumnya.

Tetas sudah amarahku. Tak bisa lagi kupendam.

"Kalau gak emosi, gak normal namanya. Dan jangan bilang ini tugas negara. Aku suruh tukar posisi nanti kamu jadi sekertaris kelas,” tanggapku tanpa tedeng aling-aling.

Di titik ini, aku tak peduli dengan lontaran kata-kata tajamku padanya. Aku tak lagi menggunakan empatiku. Bahkan, aku tak peduli dengan penilaian teman-teman yang lain ketika kumuntahkan amarah itu padanya. Aku adalah cermin bagi orang lain. Apa yang kulakukan adalah pantulan dari yang mereka lakukan pada cermin itu.

"Ih, Mba Vinny, jangan marah. Nanti cantiknya ilang, loh," bujuknya.

Aku tak menggubrisnya sama sekali.

"Saya minta kerjasamanya dari kalian semua. Karena ini tugas tim juga. Saya minta yang kebagian tabel, diagram atau bagan tolong dilengkapi untuk meringankan proses editing ini supaya segera terselesaikan. Yang sudah selesai, jangan egois. Kalau bisa, bantu yang masih kesulitan," tegasku dengan bahasa yang lebih formal dari biasanya.

Sementara, grup kelas ramai dengan segala jejak-jejak emosi yang ‘manusiawi’ yang merujuk pada kekesalan akan adanya tugas ini, di grup mata kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini, dosen tersebut menawarkan diri untuk kita semua berkumpul mengerjakan tugas ini dengan didampingi beliau. Kalau memang semua mahasiswa setuju, tinggal menentukan tempatnya dan waktunya. Beliau mewanti-wanti untuk tidak menggunakan kampus sebagai tempat pertemuan.

Aku mulai intens berkomunikasi dengan salah satu teman yang sudah kuanggap bagai ibu sendiri karena usianya lebih tua dariku. Beliau proaktif memberikan bantuan dan dukungan untukku. Kita berdua berbagi pikiran untuk mencari solusi dari kendala-kendala yang dihadapi selama pengerjaan tugas ini. Termasuk ajakan dosen tersebut untuk bertemu membahas tugas ini setelah beliau menghubungi secara pribadi dosen tersebut.

"Kita diskusikan dulu aja dengan temen-temen, Bu. Mau pada di mana tempatnya, bisanya kapan dan jam berapa," ujarku pada Bu Sutiah via whatsapp.

"Oke, Vin."

Bu Sutiah pun memberitahukan pada dosen tersebut bahwa kita menunggu kesepakatan dari teman-teman sekelas terlebih dahulu. Dosen mengiyakan. Sekaligus menentukan batas waktu tunggu untuk kesepakatan sampai 9 malam.

"Bu, kita tunggu tanggapan teman-teman di grup kelas sampai jam 8. Kalau gak ada yang merekomendasikan tempat, berarti kita yang tentukan. Kalau mereka gak datang, resiko tanggung mereka sendiri,” ujarku pada beliau.

"Oke. Biar cepet selesai juga tugasnya."

"Aku serahin ke ibu ya, untuk urusan tempat. Malam ini aku fokus ke editing. Makasih pisan, Bu, bantuannya."

"Iya. Kita sama-sama bergerak. Aku juga rasanya gemes. Pengen cepet-cepet selesai tugas yang menguras emosi ini. Kalau butuh bantuan apa-apa, tinggal ngomong aja, ya, Neng."

"Iya, Bu."

Malam itu, kesepakatan ditentukan berdasarkan respon aktif beberapa orang di grup kelas, yang tidak memberikan respon atau pasif, dianggap setuju. Hari Selasa di Kejawanan jam 9 untuk proses penyelesaian tugas ini. Dosen yang bersangkutan pun diberitahu mengenai tempat dan waktu pertemuan. Beliau menyatakan tidak bisa menghadiri pertemuan itu dikarenakan ada acara yang harus ia hadiri di kampusnya.

Akhirnya, tanpa kehadiran dosen tersebut, pertemuan akan tetap berjalan. Bu Sutiah ditunjuk sebagai koordinator yang mengawasi jalannya pertemuan.

"Semuanya dimohon datang ya, teman-teman. Demi terselesaikannya tugas ini. jangan lupa siapin kuota," ujar Bu Sutiah.

"Jangan lupa juga yang punya fasilitas laptop dibawa. Mohon kerjasamanya, karena ini bukan hanya tugas individu tapi juga kerja tim. Satu individu tidak selesai, tugas tim juga tidak akan selesai. Yang masih kesulitan untuk membuat tabel, bagan dan diagram, nanti saya bantu pas kita ketemuan. Sementara ini, coba berusaha sendiri dulu," timpalku.

*

Senin pagi, hari pelaksanaan acara wisuda anak-anak di lembaga pendidikan tempatku bekerja.

"Bu, aku offline dulu. Soal perkembangan yang ada di grup aku serahin ke ibu."

"Oke. Semoga lancar acaranya, ya, Neng."

"Iya, Bu. Makasih."

Wisuda anak-anak mengalihkanku sementara waktu dari tugas editing jurnal. Syukur Alhamdulilah karena acara wisuda anak-anak bisa terlewati meski di awal-awal kekacauan sempat terjadi. Setelah itu, sekolah libur puasa selama seminggu. Setidaknya, adanya libur puasa sangat membantu bagiku untuk proses pengerjaan editing jurnal.

Lepas acara wisuda anak-anak, lelah tak lantas bisa mengistirahatkanku. Pikiranku seolah telah terprogram dengan baik oleh label 'editing jurnal'. Sesampainya di rumah, sedari siang hingga sore, aku duduk di depan layar laptop, satu file sudah kukoreksi dan tersusun rapi. Total ada enam file yang sudah masuk proses editing dan fix. Tersisa 11 file lagi. Kupindah file tersebut ke flashdisk sebelum mematikan laptop. Aku melakukan hal itu secara berulang: memindahkan file ke flashdisk setiap kali laptop dimatikan. Mengapa? Entahlah. Batinku selalu bilang untuk berjaga-jaga.

*

Malamnya, ba'da isya, aku kembali berkutat dengan proses editing jurnal. Terhitung tiga hari sudah, keseharianku dipenuhi dengan editing jurnal dan jurnal. Sembari mengedit, aku memantau grup kelas. Grup kelas ramai membahas kembali tempat untuk pertemuan yang telah disepakati sebelumnya. Orang-orang yang malam sebelumnya tidak turut berkomentar, baru muncul berkomentar soal tempat. Ini cukup membuat jengkel aku dan Bu Sutiah.

"Masalah tempat, tolong yang sudah tahu bantu yang belum tahu, kasih arahan yang jelas. Mau ketemuan di mana. Terus berangkat bareng ke Kejawanannya," kataku.

Lantas, kuserahkan urusan grup malam itu pada Bu Sutiah. Aku tak mau ambil pusing, karena fokusku tetap pada editing jurnal.

Di tengah-tengah proses editing, aku terbelalak. Satu file, baru setengah jumlah halaman kuperiksa dan kurapikan, tiba-tiba... layar Not responding! Lama layar di hadapanku berwarna putih. Kuutak-atik. Tetap tak bisa. Layar tetap putih. Lalu blank dan mati setelahnya. Kulepas baterai. Kudiamkan sementara. Kunyalakan kembali. Laptop berulang kali reboot.

Sungguh, aku muak. Semuak-muaknya saat itu. Rasa muak, marah, sedih dan diambang putus asa karena tak tahu bagaimana solusi untuk masalah ini bercampur aduk jadi satu. Rasa tak keruan membawaku ke pembaringan. Kuputuskan untuk tidur. Dengan harapan, esok laptopku kembali normal dan malam ini, mesinnya hanya butuh istirahat. Sepertiku yang juga butuh rehat.

Di pembaringan, nyatanya, mataku tak juga bisa terpejam. Bagaimana bila esok keadaan tetap sama? Bagaimana aku harus menyelesaikan tugas editing ini? Apakah aku harus menyerah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengepung kepalaku hingga akhirnya lelah melelapkanku entah pukul berapa.

*

Selasa pagi. Ba'da subuh. Usai shalat subuh, pikiranku langsung tertuju pada laptop. Kunyalakan laptop. Kondisi laptop masih seperti semalam. Kurasakan, tubuhku mulai merespon akumulasi gejala stress yang membelitku.

Tak mungkin mengulur waktu sampai dengan laptop ini diperbaiki apalagi menunggu laptop ini pulih dengan sendirinya. Perbaikan laptop ini butuh waktu. Pergi ke warnet untuk menyelesaikannya tidak mungkin. Sama tak mungkinnya menyerahkan tugas itu ke tukang rental. Bukan solusi yang efektif. Mau berapa banyak biaya yang dikeluarkan dan waktu yang dihabiskan? Lebih tipis lagi kemungkinan ada seseorang yang mau meminjamkan laptopnya.

Menyerah sajakah? tanya batinku di ujung lelah.

Tanganku meraih smartphone.

"Bu, laptopku ngeblank dari semalam. Sampai sekarang belum pulih," ujarku pada Bu Sutiah via whatsapp.

"Ya Allah. Data tugasnya gimana?"

"Alhamdulillah sempet aku taruh di flashdisk."

"Ada-ada aja ya. Tugas ini bener-bener menyita emosi."

"Iya, Bu. Laptopku kayaknya panas. Jam pemakaiannya lebih dari biasanya."

Pagi itu... aku pasrah. Lebih tepatnya, diambang kata menyerah.

*

Pertemuan tetap berjalan. Awal pertemuan sempat kacau. Karena kesepakatan berubah mendadak di pagi itu. Sebagian terpencar di Kejawanan. Sebagian di Grage City. Aku merasa turut bersalah dalam kekacauan ini. Karena, aku yang menyetujui tempat pertemuan di grage city ketika melihat kondisi di grage city "tampak lebih nyaman" dibandingkan dengan kejawanan yang panas dalam bayanganku.

Disamping itu, pagi itu, baru terpikirkan olehku kalau kami juga membutuhkan tempat yang memiliki fasilitas sumber listrik untuk mencharge laptop ketika dalam kondisi lowbat. Dan salah seorang teman yang sudah tiba lebih dulu di Grage City pada waktu itu mengatakan bahwa fasilitas itu ada. Akhirnya, yang berada di Kejawanan pun dengan kesal berbalik arah melawan arus menuju grage city.

Setelah semua berkumpul, kami pun mencari tempat untuk menyelesaikan tugas ini. Kami naik ke lantai dua. Lalu berhenti dengan ragu-ragu di aula yang dulu digunakan untuk acara KOMPAK mahasiswa IAI BBC.

"Boleh gak tempat ini dipake? Kita perlu izin dulu gak?" tanya Bu Imas.

"Kayaknya gak papa. Kita mau di mana lagi," tanggap teman yang lain.

"Di sini yang ada colokannya juga," aku menimpali.

Akhirnya, kami pun berkumpul di sudut tembok aula. Laptop-laptop dikeluarkan. Sebagian mulai mengerjakan kekurangan-kekurangan tugas mereka. Sebagian lainnya yang sudah tak ada masalah dengan tugasnya tampak mengobrol. Sebagian lagi, mencari makanan karena mereka belum sempat makan. Aku mulai membimbing teman-teman yang kesulitan mengerjakan tabel, bagan atau diagram.

"Neng, nanti laptopku dibawa kamu aja," ujar Bu Sutiah sembari makan nasi goreng yang telah dibelinya.

Aku terperangah. Kaget. Tak percaya ada yang mau mengorbankan fasilitasnya dipakai demi tugas ini.

"Beneran gak papa, Bu? Ibu gak pake laptopnya?"

"Iya, gak papa, pake aja. Biar tugasnya bisa cepet selesai. Tinggal ngerekap tabungan. Udah saya pindah filenya di flashdisk."

"Ya Allah, Bu. Makasih pisan. Aku tadinya udah kepikiran mau nyerah."

"Saya juga udah mikir ke situ. Kalau kamu nyerah nanti bubar semua. Makanya, bawa aja laptop saya buat ngerjain."

"Iya, Bu. Soalnya gak mungkin aku bolak-balik warnet untuk nyelesein tugas ini."

"Iyalah. Biayanya mahal."

"Iya, Bu. Waktunya selesainya juga bakal lebih lama. Kalau pakai laptop pribadi kan bisa full di rumah. Waktunya panjang."

"Makanya, saya udah siapin semuanya nih di tas ini. Laptop sama chargernya juga."

"Beneran gak papa, Bu?" aku mengulang pertanyaan untuk meyakinkannya.

"Iya. Pake aja."

"Makasih banyak, Bu."

Aku bersyukur saat itu, satu solusi terpecahkan atas izin-Nya. Aku takjub dengan Bu Sutiah. Karena jarang ada orang yang sepeduli itu dan rela meminjamkan fasilitas pribadinya demi tugas ini. Setelah masalah laptop selesai, kekacauan pun masih berlangsung.

Sri sampai di kejawanan. Ia datang paling terakhir. Miskomunikasi terjadi. Sri menghubungi Tata menanyakan keberadaan kami. Tata memberitahukan bahwa kita ada di Grage City. Sri mengatakan ia tidak punya ongkos untuk menyusul kami di Grage City.

"Suruh pesen grab aja. Tahu mau keluar gak bawa duit sama sekali," ujar Bu Sutiah.

"Dia ngontak kalian pake HPnya siapa, sih, Wat? Setahuku HPnya kan rusak," tanyaku pada Wawat dan Tata.

"HP saudaranya, Teh," sahut Wawat.

"Ya udah, kalau pakai HP saudaranya berarti kan dia sama saudaranya. Minta diantar aja ke sini sama saudaranya. Tapi kalau bukan pake HP saudaranya, coba dijemput. Siapa yang mau jemput?" kataku.

"Aku gak tahu Kejawanan, Mbak," ujar Wawat.

"Aku aja yang jemput kalau dia sendiri," tandasku setengah dongkol.

"Teh Vinny jangan kemana-mana. Teh Vinny, kan, yang bimbing teman-teman di sini. Suruh pesen grab aja, nanti dibayar di sini," ujar Bu Sutiah.

Selang beberapa jam setelah itu, Sri datang dengan mata sembab. Sudah bisa dipastikan, telah terjadi melodrama sepanjang perjalanan dirinya menuju Grage City. Aku berusaha memberikannya jeda untuk menenangkan diri. Sampai ia sendiri yang datang menghampiriku.

"Aku tugasnya kurang apa, Teh?" tanyanya padaku setelah agak tenang.

"Maaf, aku gak sempat menjelaskan panjang lebar waktu kamu inbox via facebook. Soalnya aku lagi pusing-pusingnya waktu itu. Email yang kamu kirim juga belum nyampe-nyampe. Kamu kurangnya di tabel. Tabelnya kamu belum dibuat. Kamu bawa laptop?"

"Bawa, tapi harus nyolok terus laptopnya."

"Ya udah, dinyalain dulu aja laptopnya. Cari colokan deket sini. Nanti aku ajarin cara bikin tabelnya."

Sri mengiyakan.

*

Azan Dzuhur berkumandang. Kami bergiliran untuk melaksanakan shalat dzuhur. Ada kejadian yang memalukan ketika Aku dan Bu Mia melaksanakan shalat Dzuhur. Usai shalat dzuhur dan kami kembali ke aula, kami melihat teman-teman telah mengemasi barang bawaannya.

"Mau pada kemana?" tanyaku.

"Kita diusir satpam tadi pas Bu Vinny lagi shalat," ujar Bu Renata.

"Diusir?" kataku dengan raut muka kaget.

"Bener kata Bu Imas tadi ya," sambung Bu Renata.

"Kita turun ke bawah aja dulu, yuh," tandas Bu Sutiah yang malu sekaligus jengkel dengan pengusiran ini.

"Temen-temen yang lain udah pada kumpul semua?" tanyaku.

"Ini sandalku ke mana? Dipake sapa?" tanya Bu Sutiah mencari-cari sandal.

"Dipake Dijah atau Bu Diana mungkin," timpal Bu Renata.

Sungguh hiruk-pikuk akibat diusir satpam saat itu membuatku ingin tertawa sekaligus merasa konyol.

"Tu, Bu Diana sama Dijahnya," kataku dengan jari mengarah pada dua orang yang tengah berjalan mendekati kita.

"Sekarang mau ke mana?" kata Bu Sutiah.

"Gimana kalau ke rumah Bu Renata?" usul Bu Mia.

"Jangan. Ada bayi. Banyak anak-anak. Kasian mamahnya nanti repot. Aku tahu situasi kondisi rumahnya," jawabku.

"Terus gimana?" tanya Bu Sutiah.

"Tugasnya udah pada selesai belum?" tanyaku.

"Aku belum, Teh," jawab Sri.

"Tata gimana?" tanyaku.

"Tabelnya sedikit lagi," jawab Tata.

"Ya, udah, Bu. Kalau yang lain udah pada selesai, pulang aja. Tata kalau tinggal sedikit, diselesein di rumah, nanti kirim via wa filenya. Sri, berhubung kamu susah dikontak karena gak ada HP, kamu mau gimana?"

"Aku minta dianter ke sekolah, Teh. Aku mau ngerjainnya di sekolah aja," kata Sri.

"Ya udah kita kerjain di sekolah kamu. Nanti filenya masukin ke flashdisknya aku."

Akhirnya, tugas teman-teman kuanggap selesai hari itu. Toh kalaupun masih ada kekurangan, itu akan menjadi tugasku sebagai editor untuk melengkapi atau memperbaikinya.

"Teteh gak sama Bu Renata?"

"Gak. Bu Renata rumahnya dekat sini."

Kami pun berpisah dengan teman-teman setelah Bu Sutiah menyerahkan uang patungan teman-teman padaku untuk keperluan biaya pengerjaan tugas ini. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Sementara aku mengantar Sri ke sekolah untuk mengerjakan tugasnya. Sepanjang jalan menuju sekolah, terlontarlah cerita melodrama dari mulut Sri yang membuat matanya sembab ketika datang ke Grage City.

Sampai di sekolah tempat Sri bekerja, aku menunggunya menyelesaikan tabel yang belum dibuatnya hingga sore sembari mencicil tugas editing. Lepas magrib, masih kurang dua tabel lagi yang belum terselesaikan.

"Udah Sri. Sisanya gak papa aku aja. Kalau ditungguin nanti aku pulangnya kemalaman. Kalau gak sekarang, susah lagi buat ngontak kamunya karena gak ada HP. Terus juga kamunya pulang ke Ciledug."

"Beneran gak papa, Teh?"

"Iya. Gak papa. Aku numpang shalat magrib, ya. Terus pulang habis itu."

Hujan sempat turun sesaat kala aku menunaikan shalat magrib. Lalu reda menyisakan gerimis seiring kepulanganku dari sekolah tempat Sri bekerja.

*

To be continue.... (bersambung)

Rabu, 06 Juni 2018

Aku Bukan Orang Baik



Gurat wajah yang kutampilkan begitu mahir berpura-pura
Haha hihi
Tertawa
Tersenyum
Mengangguk mengiyakan
Sementara hati terasa berdarah
Ketika kepala mampu mencerna ke mana arah pembicaraan itu

Apakah aku tidak tahu cara berterima kasih?
Mungkin iya
Mungkin juga letak perkaranya pada seberapa dalam dua orang manusia lintas generasi saling mengenal

Apakah aku orang yang mudah melupakan orang lain?
Mungkin iya
Mungkin juga duduk masalahnya pada seberapa sering frekuensi komunikasi kita terjalin

Aku.
Ya.
Aku.

Seseorang yang mudah berkenalan dan membuka komunikasi dengan orang baru
Seseorang yang mudah membentuk sebuah hubungan pertemanan

Sekaligus

Seseorang yang sulit untuk menceritakan tentang kisah hidupnya
Seseorang yang sulit untuk membagi perasaannya kecuali pada orang terdekat
Seseorang yang sulit untuk memperlihatkan airmata pada sembarang orang ketimbang kemarahannya
Seseorang yang berjuang dengan waktu untuk bisa mempercayai orang lain soal perasaannya setelah beberapa kali pengkhianatan mencabik-cabik kepercayaan
Seseorang yang berkali-kali menelan pemahaman bahwa ketulusan tak selamanya berbalas dengan perasaan yang serupa
Seseorang yang sebisa mungkin lebih memilih mengandalkan diri sendiri agar tak lagi-lagi merasakan kecewa 
Seseorang yang begitu menghindari apa yang dinamai hutang budi
Seseorang yang lebih memilih lingkaran kecil ketimbang lingkaran besar untuk sebuah hubungan persahabatan yang mendalam lagi kuat terikat.

Aku.
Ya.
Aku.

Apakah aku orang yang tidak tahu terima kasih?
Apakah aku orang yang tidak tahu cara menghargai orang?
Mungkin iya
Sebab, kita tak memiliki kelekatan ikatan emosi dan hubungan yang mendalam
Sehingga sudut pandangmu hanya bertemu di kulit terluarku

Aku.
Ya.
Aku.

Apakah aku orang yang mudah melupakan orang?
Mungkin iya
Ketika tidak pernah ada ikatan emosi yang terjalin
Ketika orang itu yang lebih dulu menghilang dari hidupku
Ketika tak ada kabar terdengar

Aku.
Ya.
Aku.

Salahkah ketika radarku mengeliminasi secara otomatis objek yang perlahan menjauh dari jangkauanku lalu melesap tanpa jejak setitik pun?
Atau ketika radarku tak mampu memahami objek yang muncul tiba-tiba lalu menghilang bersembunyi entah dimana?
Salahkah?

Aku.
Ya.
Aku.

Mengapa kata-kata selembut bulu angsa terasa bagai beling ketika sampai di hati?
Bukankah kata-kata itu adalah oase hikmah yang disampaikan oleh seorang panutan banyak orang?
Atau mungkinkah hatiku sedang keruh dan sempit?

Aku.
Ya.
Aku.

Aku bukan orang baik.
Aku tak tahu cara berterima kasih

Malam ini, setidaknya, begitulah yang kuterjemahkan dan kupahami dari makna kalimat itu.

Aku.
Ya.
Aku.

Itulah salah satu pecahanku yang mungkin terlintas di benakmu.

Aku.
Ya.
Aku.

Aku bukan orang baik.
Aku manusia biasa dengan segala aib dan kekurangannya.
Terima kasih, telah menjadi mata yang dikirimkan-Nya untuk mengingatkanku akan sebuah kata "orang baik".

-V.E.P, 06.06.18

Kamis, 26 April 2018

Tentang Teman dan Seorang Gadis Penyendiri



Gadis itu kerap pergi mengunjungi kesunyian
Ia berdiam di sana lalu pergi sekehendak hatinya
Ada ragam rasa dan pemikiran yang ia sembunyikan di sana
Kali ini, ia mempertanyakan kembali, "Apa itu teman?"
Pertanyaan yang pernah ia lontarkan entah kapan waktu
Dan yang ke sekian kalinya

Ah, tapi sepertinya itu bukan pertanyaan
Lebih tepatnya, mengingat kembali makna teman

Gadis itu bukanlah seorang yang terisolir dari lingkungan sosialnya
Juga bukan orang yang tidak punya teman

Telah banyak rentang waktu yang ia lewati
Orang-orang yang dinamakan teman, datang dan pergi dalam hidupnya
Terkadang merupa repetisi yang sama
: mereka datang, mengatakan gadis itu cerdas, andal lalu mengandalkannya
Setelah itu, waktu akan membuktikan
Bagaimana wajah-wajah pertemanan itu
Dan landasan apa yang menopangnya
Kepentingan ataukah ketulusan

Waktu menyadarkannya akan satu hal
: ketulusan adalah seleksi alam terbaik
Tentang siapa yang akan menetap tinggal
Seiring tunainya segala kepentingan
Tentang siapa yang akan bertahan di sisi
Seiring jarak dan waktu tergelar

Waktu memahamkannya akan satu hal
Ketulusan terkadang menyisakan luka-luka
Ketika gadis itu berusaha menerima
Dan berdamai dengan dirinya
Bahwa ketulusan itu tak membutuhkan balasan

Waktu pulalah, yang mengajarkannya 
Cara mengenali wajah-wajah asli
Dari sekian banyak topeng orang-orang
Yang berada dalam aliran hidupnya
Dan akan berujung ke mana muara pertemanan itu
Apakah kepentingan atau ketulusan

Karena, untuk melindungi hatinya dari luka-luka
Ia kerap menyinggahi kesunyian
Sendirian
Bahkan, ketika ia berjuang untuk memenangkan masa-masa sulitnya

Di sini pulalah, ia menghadirkan batas
Sejauh mana pertemanan itu ia izinkan menyentuh hidupnya
Juga bagian mana yang harus dilindungi dari dirinya

-V.E.P, 26.04.2018

Minggu, 21 Januari 2018

Sunyi Yang Hangat



Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila aku tak menemukan Tuhan di sana.
Sunyi menjadi dingin, hilang kehangatan karena kasih sayang-Nya tak lagi menerangi.
Pada saat itu, air mata bukan lagi air mata syukur atau pengaduan ternikmat atas segala ketidak-berdayaan diri.
Tapi berubah menjadi sebuah ratapan pilu yang mengasihani diri sendiri hingga lupa menghargai diri sendiri.

Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila Tuhan tak merentangkan tangan-Nya di sana untuk merengkuhku.
Sunyi menjadi gelap muram karena kehilangan secercah cahaya Tuhan.
Pada saat itu, jiwa yang menjelajahi sunyi bukan lagi jiwa yang berusaha menadah tetes-tetes hikmah dari setiap catatan takdir yang telah digariskan.
Tapi menjelma menjadi sebuah rasa kesepian yang kian memerihkan hati.

Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila Tuhan memunggungi dan berpaling dariku dengan murka.
Sunyi tak bisa lagi menjadi tempatku bersembunyi menikmati jeda untuk menyeduh bulir-bulir ketenangan dari-Nya.
Saat itu terjadi, maka itulah kehancuran sempurna untuk hidupku.

Karena itu... agar sunyi tak terasa menakutkan, saat kutenggelam dalam sunyi, aku kerap menanam doa dan pinta: sebuah sunyi yang hangat dimana diri-Nya selalu menanti dengan cahaya kasih sayang-Nya.

V.E.P, 21.01.2018