Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Was Okay Not To Be Okay

It Was Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Apakah Kau Merindukan Ayah?

Ajari Aku Merindukan Ayah Sebelum Titik Penyesalan Datang

Kita

Ketika Dari Titik Perih Yang Sama Persahabatan Dimulai

Teamwork

Makna Sebuah Teamwork

Minggu, 21 Januari 2018

Sunyi Yang Hangat



Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila aku tak menemukan Tuhan di sana.
Sunyi menjadi dingin, hilang kehangatan karena kasih sayang-Nya tak lagi menerangi.
Pada saat itu, air mata bukan lagi air mata syukur atau pengaduan ternikmat atas segala ketidak-berdayaan diri.
Tapi berubah menjadi sebuah ratapan pilu yang mengasihani diri sendiri hingga lupa menghargai diri sendiri.

Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila Tuhan tak merentangkan tangan-Nya di sana untuk merengkuhku.
Sunyi menjadi gelap muram karena kehilangan secercah cahaya Tuhan.
Pada saat itu, jiwa yang menjelajahi sunyi bukan lagi jiwa yang berusaha menadah tetes-tetes hikmah dari setiap catatan takdir yang telah digariskan.
Tapi menjelma menjadi sebuah rasa kesepian yang kian memerihkan hati.

Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila Tuhan memunggungi dan berpaling dariku dengan murka.
Sunyi tak bisa lagi menjadi tempatku bersembunyi menikmati jeda untuk menyeduh bulir-bulir ketenangan dari-Nya.
Saat itu terjadi, maka itulah kehancuran sempurna untuk hidupku.

Karena itu... agar sunyi tak terasa menakutkan, saat kutenggelam dalam sunyi, aku kerap menanam doa dan pinta: sebuah sunyi yang hangat dimana diri-Nya selalu menanti dengan cahaya kasih sayang-Nya.

V.E.P, Cirebon 21.01.2018

Kamis, 28 Desember 2017

#3. Untukmu Yang Masih Entah



Untukmu yang masih entah...

Surat ketiga untukmu
Bagaimana keadaanmu sekarang?
Sejauh mana impian-impianmu telah kau genggam?
Apakah langkahmu semakin dekat menujuku?

Aku masih di sini
Menunggumu
Kali ini, dengan kepala tegak
Dan harap yang tak lagi berdarah
Aku telah berpasrah pada waktu dan takdir yang ditetapkan-Nya untukku

Lalu, bagaimana denganku sekarang?
Aku sekarang?
Masih sama: merindukanmu
Impianku?
Jelang akhir tahun ini, aku membulatkan sebuah tekad
: melahirkan sebuah buku
Tentang anak-anak di mana dunia mereka menjadi salah satu kebahagiaanku
Tentang dunia saat-saat diriku larut bersama mereka

Tapi... mengapa rasanya sesulit ini?
Kerapkali aku merasa bagai pejuang yang kalah sebelum berperang atau mundur sebelum perang selesai
Aku melihat jauh di dalam sanasalah satu pecahanku terkungkung kekhawatiran
Kepercayaan diri yang biasanya melekat padaku seolah-olah mendebu
Yang bahkan debunya tak berani mendekati kungkungan itu 

Dalam kungkungan kekhawatiran, kudapati kegelisahan acap meletik-letik 
Hingga, kadang kegelisahan memaksa jeda yang terlalu lama untukku membekukan kata-kata
Mungkin, ada benarnya sebuah ungkapan: mengawali sesuatu membutuhkan keberanian besar, sementara menjaga keberanian dan tekad tetap menyala ketika kita telah berhasil memulai butuh keyakinan yang kuat.

Aku telah memulai
Tapi masih jatuh bangun membangun keyakinan untuk mempercayai diriku sendiri
Terkadang... disaat-saat seperti ini
Aku membutuhkan cermin yang mampu memperlihatkan pancaran sinarku lebih terang dari cerminku sendiri
Saat-saat seperti ini, memaksa rinduku pecah begitu saja
Rindu akan berakhirnya penantian ini
Hingga tak terasa pandangan mata ini mengabur
Ada hangat yang mengembun di sana 
Dan luruh tanpa bisa kukekang





Kamis, 14 Desember 2017

Firasat



Dan keganjilan serupa firasat, mampu merebakkan hangat di sepasang mata. Bilasaja tahu milik siapa dan kemana pertanda bermuara, rasanya tak akan sekacau ini.

Ya, kacau. Sungguh kacau. Karena mampu memporak-porandakan sunyiku menjadi tak keruan. Sunyi yang hangat hilang, berganti udara kesedihan yang aku tidak tahu untuk siapa dan mengapa.

Andai saja, radarku mampu menyingkap sebuah wajah yang mengirim sinyal pertanda, sunyi akan menjadi lebih hangat. Andai saja, radarku mampu menemukan aliran muaranya, aku bisa lebih cepat mengulurkan tangan. Dan keentahan bisa terusir lebih awal dengan titik terang.

Keganjilan serupa firasat ini, sungguh melankoli malam yang tidak kuingini. Yang mau tidak mau, keberadaannya harus kuterima. Dan membuatku menabur banyak doa-doa keselamatan untuk detak kehidupan yang berada di dalam lingkaranku.

Rabu, 13 Desember 2017

Ekstrovert Versus Introvert



Dia wanita yang bisa dengan mudah menjadikan setiap orang di sekelilingnya bagai "rumah". Termasuk pada orang yang belum lama dikenalnya. Dia bercerita tentang kehidupannya, kehidupan orang-orang di sekelilingnya, bahkan ruang yang menurut pendapat orang introvert adalah ruang pribadi.

Sementara, yang satunya, begitu selektif dan ketat memilih rumah tempat ia mempercayakan hati berikut segala kidung hidupnya. Ia lebih sering menjadi rumah bagi banyak orang. Telinganya lebih banyak bekerja daripada mulutnya. Dan orang-orang yang datang padanya, senang menggunakan mulutnya untuk menitipkan kisah-kisah mereka, membuang emosi negatif yang tengah mereka rasakan dan terkadang menanyakan sebuah jalan keluar.

Sebutlah wanita yang "mudah menemukan rumah" itu dengan nama ekstrovert. Wanita ekstrovert dengan sisi maskulinitas yang dominan dan kemahiran untuk membuat orang menganggukan kepala atas ide-ide cerdas yang dimilikinya. Wanita yang bergegas, lihai, cekatan, tangkas dan mampu mengarahkan orang-orang yang berada dalam genggamannya. Ia menyerap banyak energi ketika ia berada dalam keramaian dengan orang-orang sebagai sumber energinya.

Sementara wanita yang "memiliki sedikit rumah", bernama introvert. Wanita introvert dengan banyak hal pribadi yang ia lindungi dan tidak bisa sembarang orang bisa memasukinya. Wanita dengan sensitivitas tinggi, banyak digerakkan instuisi yang tersembunyi di dalam dirinya dan bersinar terang ketika ia berada dalam ruang bernama kesunyianWanita yang menyukai bekerja di belakang layar, tapi juga siap menaklukan tantangan bila dibutuhkan berada di depan layar. Wanita pembelajar yang siap dengan kondisi-situasi baru dan sebuah perubahan keadaan. Wanita dengan padu-padan sisi maskulinitas-feminisme dalam waktu yang bersamaan. Wanita yang kerapkali disangka ekstrovert ketimbang introvert karena kemampuan adaptasinya yang mirip bunglon sebagai bentuk pertahanan dirinya. Sisi bunglon yang melekat pada wanita ini adalah ia mudah terhubung dengan orang-orang di sekelilingnya termasuk situasi-kondisi di lingkungan baru. Kemampuan penetrasinya yang cepat dalam beradaptasi dan terhubung dengan orang-orang adalah hadiah dari Tuhan untuknya melindungi diri pula mengepakkan sayap. Tak butuh perjuangan baginya untuk memulai pembicaraan ringan dengan orang yang baru ia ditemui. Tapi pembicaraan itu, tidak akan melebihi batas ruang pribadinya yang sudah ia tentukan. 

Wanita ekstrovert dan wanita introvert itu, keduanya, memiliki kesamaan: mampu bekerja sama dalam suatu grup maupun secara independen, memiliki ambisi cita-cita, pembelajar aktif dan pantang menyerah dalam situasi-kondisi sulit.

Wanita introvert, meminta kepada-Nya untuk bisa meluaskan hati, agar tetap bisa menetralkan kesamaan itu ketika bertemu tanpa ia kehilangan dirinya. Karena, wanita introvert belajar dari pengalamannya. Ketika kesamaan itu bertemu, dan ia terlampau banyak mengalah... tumbukan hebat akan menjadi sebuah hal yang tidak mengenakkan. Sisi lain dari diri introvert yang jarang ditunjukkannya, akan membuat orang-orang terdiam dengan kata-kata tajamnya. Saat itulah, keseimbangan yang senantiasa diciptakannya di setiap lingkaran, akan porak-poranda.

Wanita introvert, berdoa kepada-Nya, semoga hubungan yang mulai terbangun baik, akan tetap baik sepanjang jantungnya masih berdetak.

#CatatanSeorangINFJ